Khazanah Islam

Blambangan Termotifasi Belajar Agama

×

Blambangan Termotifasi Belajar Agama

Sebarkan artikel ini
Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU
Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd.Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU

Blambangan Termotifasi Belajar Agama

Persembahan Ust.Yasin.
Penyuluh Agama Islam Kemenag OKU

Dalam pembinaan malam kamis dengan warga blambangan ustadz yasin menyampaikan pentingnya memepelajari ilmu agama islam, khususnya Al-Qur’an. Ungkapan Ustadz Yasin dilandaskan pada ayat AL-AQur,an Surat Al Alaq ayat 1-5 yakni ayat tentang perintah membaca.

Membaca apa dan bagaimana? Berikut ini arti, tafsir, dan kandungan maknanya.

Surat Al Alaq (العلق) merupakan surat makkiyah. Bahkan, ayat 1-5 dari surat ini merupakan ayat pertama yang Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menandai pengangkatan beliau sebagai nabi.

Berikut ini Surat Al Alaq ayat 1-5 dalam tulisan Arab, tulisan latin, dan artinya dalam bahasa Indonesia:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(Iqro’ bismi robbikal ladzii kholaq. Kholaqol insaana min ‘alaq. Iqro’ warobbukal akrom. Alladzii ‘alama bil qolam. ‘allamal insaana maa lam ya’lam)

Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tergambar secara jelas arti jelas dari ayat satu sampai lima sangat erat kaintanya dengan Ilmu atau proses mendapatkannya yakni Belajar.

Uraian singkatnya memberitakan tentang perintah belajar, sadari kemampuan dalam menjalankannya, kemudian munculnya kesadaran akibat belajar dan menyadari batas kemampuannya dalam segala hal. Berikut ini adalah isi kandungan Surat Al Alaq ayat 1-5:

Perintah untuk membaca, baik membaca teks maupun konteks. Membaca ayat-ayat qauliyah maupun ayat-ayat kauniyah.
Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan dan orientasi dalam membaca dan segala aktivitas lainnya.

Allah adalah Tuhan yang Maha Menciptakan. Dialah yang menciptakan alam semesta dan menciptakan manusia.
Melalui rangkaian ayat ini, Allah memperkenalkan sifat-sifat-Nya yang berbeda dengan keyakinan orang-orang musyrikin Mekah.

Allah memerintahkan untuk membaca dan menulis karena keduanya adalah sarana untuk mengetahui ilmu agama dan menyebarkannya kepada manusia.

Membaca dan menulis juga merupakan asas kemajuan ilmu, pengetahuan, etika dan kebudayaan, serta kemajuan peradaban.

Melalui membaca tulisan yang tertulis dengan pena, Allah mengajarkan kepada manusia apa yang sebelumnya manusia tidak mengetahuinya.

Islam mengajarkan umatnya untuk suka membaca, suka menulis, dan mencintai ilmu.

Dari kselurahan kandungan ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Belajar Wajib adanya, baik melalu menulis membaca dab mendengarkan (Mencari ilmu). Ilmu dalam Islam menempati posisi yang penting.

Sebagaimana diketahui, mencari ilmu berada pada tingkatan wajib. Barangkali kalau dikumpulkan, ada puluhan ayat dan hadis Nabi yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan kewajiban mencarinya.

Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ahli ilmu lebih utama dibanding ahli ibadah.

Dalam kitab Minhaj al-‘Abidin dijelaskan ada dua hal penting dalam agama, yaitu ilmu dan ibadah.

Bahkan lebih lanjut al-Ghazali mempertegas selain ilmu dan ibadah hanya ada kebatilan yang nihil kebaikan dan kesia-siaan belaka.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat At-Thalaq ayat 12 dan surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنزلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Artinya:“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Al-Ghazali menyebut bahwa ilmu menempati posisi pohon dan ibadah adalah buahnya. Dalam menempati posisi pohon, ilmu lebih didahulukan dibanding buah.

Keutamaan ilmu karena ia menjadi pohon, tempat asal atau sumber buah. Akan tetapi ilmu tidak berguna jika tidak berbuah. Sehingga seorang muslim harus berilmu dan beribadah.

Ahli ilmu lebih utama dibanding ahli ibadah itu disebabkan ilmu sebagai asal dan petunjuk. Al-Ghazali menyitir sabda rasulullah SAW yang berbunyi:

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Artinya:“Ilmu merupakan pemimpin amal dan amal adalah pengikutnya.”

Lebih diutamakannya ilmu dibanding ibadah dikarenakan ilmu sebagai asal atau sumber. Sedangkan ilmu diposisikan sebagai asal karena dua hal.

Pertama, dengan memiliki ilmu, ibadah akan terlaksana secara benar. Bagaimana mungkin seseorang beribadah tanpa memiliki pengetahuan tentang Dzat yang Disembah, apa yang Ia perintah dan Ia larang.

Maka ilmu lebih didahulukan agar umat Islam tidak keliru dalam beribadah sehingga membuat ibadahnya sia-sia.
Kedua, ilmu yang bermanfaat menjadikan takut kepada Allah (khosyatillah) dan mendapat derajat kemuliaan di sisi-Nya.

Orang yang tidak memiliki ilmu tentang Allah dan segala perintah dan larangan-Nya tidak akan mendapatkan derajat kemuliaan dari-Nya. Karena dengan ilmu, orang akan menjadi taat dan terjauhkan dari maksiat berkat anugrah Allah.

Sedangkan anugrah-Nya tidak akan diberikan bagi mereka yang tidak berilmu.
Selain itu, sejarah Islam telah membuktikan bahwa pengangungan dan perhatian terhadap ilmu telah berhasil membawa Islam sebagai peradaban yang gemilang.

Pemerintahan Islam yang berjaya di masa lalu ialah mereka yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai pondasinya. Ilmu memiliki urgensi yang signifikan dalam lingkup individual dan sosial.

Philip K. Hitti mencatat dalam bukunya, The History of Arabs, perkembangan ilmu yang pesat mulai dari kajian kedokteran, astronomi, arsitektur, matematika, geografi, sejarah, sastra, seni hingga filsafat membuat dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya.

Spirit keilmuan ini ditangkap oleh dunia Barat melalui gerakan Averoisme (para murid Ibnu Rusyd) yang menjadi faktor lahirnya kebangkitan (renaissanse) dan pencerahan (Aufklarung) Eropa.

Dampaknya, dunia menjadi lebih cerah dan maju karena perkembangan ilmu pengetahuan. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News