Kenapa Belajar Agama Harus Bertahap ?
Persembahan Ustadz Yasin
Pengurus NU,IPARI, DMI, DK dan PMI
Ditengah banyaknya aplikasi pelaporan kinerja dan tuntutan untuk selalu ber inovasi diberbagai macam pertemuan.
Cara atau inovasi membangkitkan keinginan semangat belajar, ibadah, pada kelompok binaan seorang penyuluh Agama Islam Kantor kementrian Agama Kecamatan semidang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatra Selatan, Ustadz Yasin mengikuti berbagai seminar.
Baik lokal, Nasional maupun internasional dengan menggunakan beberapa apliksi media sosial, Mulai Media Zoom, tiktok, whatshap, Faccebok dan Youtube.
Kali ini melalui media cetak dan online Okusatu.id yang sudah ditekuni sejak ahir 2022 (Awal November 2022) hingga kini tak-hentinya mengutip beberapa Hadits dan Ayat_Ayat Alqur’an yang relevan dengan tema penyampain materi.
Kali ini ustadz yasin mengutip QS Almuj adalah dengan tujuan memfokuskan pada Keutamaan ilmu bagi pemiliknya.
Sebenarnya kita semua sudah acapkali mendengarkan bahwa ibadah tanpa ilmu sia-sia, kewajiban dalam hidup ini tak ada batasan dalam menuntut ilmu.
Ayat Aql-ur’an pertama juga sudah menyinggung pentingya ilmu, Bahkan tak sedikit terjadinya kerusakan, kecelakaan, keterpurukan juga dikarnakan kurangnya ilmu yang dimiliki pelakunya.
Berbicara mengutamakan ilmu jangankan makhluknya, sang penciptapun dalam Sabdanya sangat mengagungkan orang yang berilmu.
Firman Allah SWT menyebutkan:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (سورة المجادلة: ١١)
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS al Mujadilah: 11)
Ayat diatas menunjukkan betapa penting dan utamanya ilmu disisi Allah SWT. Sampai-sampai orang yang memiliki ilmu ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.
Karena itulah, sebagai suatu risalah yang dibawa al Qur’an, maka pendidikan dan pengajaran seorang muslim menjadi wajib hukumnya.
Bahkan tidak hanya itu, mencari ilmu bisa jadi sangat mudah. Mendapatkan ilmu pun boleh jadi sangat gampang. Namun yang paling penting adalah bukan hanya sekedar mencari dan memperolehnya, melainkan mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya.
Dalam kitab “Al-Mawa’idh Al-‘Ushfuriyyah” karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan:
عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنهم قال: قال رسول الله تعالى عليه وسلم: من تعلم بابا من العلم ينتفع به في آخرته ودنياه أعطاه الله خيرا له من عمر الدنيا سبعة آلاف سنة صيام نهارها وقيام لياليها مقبولا غير مردود.
Artinya:Dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari Abdulloh bin Mas’ud RA berkata: Rasululloh SAW bersabda: “Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu yang bermanfaat bagi dunianya dan akhiratnya maka Allah memberinya yang lebih baik baginya dari tujuh ribu umur dunia yang siangnya digunakan berpuasa dan menghidupkan malamnya yang ibadah tersebut diterima dan tidak ditolak”.
عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله رضي الله عنهم قال: قال رسول الله تعالى عليه وسلم: قراءة القرآن أعمال المكفيين والصلاة أعمال الأعاجز والصوم أعمال الفقراء والتسبيح أعمال النساء والصدقة أعمال الأسخياء والتفكر أعمال الضعفاء ألا ادلكم على أعمال الأبطال قيل يا رسول الله وما أعمال الأبطال قال طلب العلم فإنه نور المؤمن في الدنيا والآخرة.
Artinya:Dari Ibrahim, dari ‘Alqomah’ dari Abdulloh RA berkata, Rasululloh SAW bersabda: “membaca al quran adalah pekerjaan orang-orang yang berkecukupan, sholat adalah pekerjaan orang yang lemah, puasa adalah pekerjaan orang-orang fakir, bertasbih adalah pekerjaan para wanita, sedekah adalah pekerjaan para dermawan, berfikir adalah pekerjaan orang yang miskin, maukah aku tunjukkan pada kalian pekerjaan para pahlawan?”, “Wahai Rasululloh, apa pekerjaan para pahlawan?” Beliau menjawab: “Menuntut ilmu, karena ilmu adalah cahaya orang beriman di dunia dan akhirat”.
Dari dasar-dasar diatas sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Ilmu merupakan sarana paling penting dalam pergulatan beragama setiap harinya.
Sekaligus sebagai warisan berharga dari para nabi melalui para ulama. Nabi SAW tidak mewarisi harta benda akan tetapi sesuatu yang lebih berharga dibandingkan harta benda, yaitu ilmu agama.
Sementara dalam menuntut ilmu, mempelajari hal-hal dasar terlebih dahulu adalah sebuah keharusan. Seorang pemula yang melompat ke tingkat pelajaran lebih tinggi, padahal belum waktunya, hanya akan menyia-nyiakan waktu belajar.
Dalam hal ini, masyarakat bisa menengok proses belajar di pesantren. Biasanya santri mengkaji kitab-kitab dasar terlebih dahulu. Kemudian lanjut ke kitab-kitab berikutnya, sampai tingkat akhir dengan pembelajaran yang kompleks dan lebih luas.
Untuk fan fikih, biasanya dimulai dengan Mabadil Fiqh, dilanjut Safinatun Najah, Riyadhul Badi’ah, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, dan Mahalli (syarah Minhajut Thalibin).
Untuk fan nahwu, dimulai dengan kitab Jurmiyah, dilanjut Imrithi, Al-Kawakibud Durriyah, Alfiyah Ibnu Malik, dan Mughni Labib.
Demikian pula pada fan-fan lainnya, dimulai kitab dasar yang lebih mudah, tingkat berikutnya, sampai kitab akhir dengan pembahasan yang lebih luas. Imam Al-Ghazali (w. 1111 H) dalam Ihya ‘Ulumiddin menjelaskan,
الوظيفة الرابعة: أن يحترز الخائض في العلم في مبدإ الأمر عن الإصغاء إلى اختلاف الناس سواء كان ما خاض فيه من علوم الدنيا أو من علوم الأخرة فإن ذلك يدهش عقله و يحير ذهنه و يفتر رأيه و يؤيسه عن الإدراك و الإطلاع. بل ينبغي أن يتقن أولا الطريقة المرضية عند أستاذه, ثم بعد ذلك يصغي إلى المذاهب و الشبه.
Artinya: “Seorang pelajar pada tingkat pertama, hendaknya jangan dulu mendalami perbedaan pendapat, baik ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Hal itu bisa menimbulkan keraguan berpikir, membingungkan hatinya, mengendorkan nalar, dan membuat putus asa belajar. Pada tahap awal, seharusnya mengikuti arahan yang diberikan sang guru. Setelah itu baru mendalami lintas madzhab dan syubhat-syubhat.” (lihat Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, juz 1, hal. 51)
Mencermati penjelasan Al-Ghazali di atas, kita bisa memahami, dalam tingkat pemula bagi seorang pelajar atau siapapun yang sedang mendalami Agama, mempelajari ilmu-ilmu dasar terlebih dahulu adalah sebuah keharusan. Sesuai dengan kapasitas pemula yang lebih mudah dipahami.
Setelah itu, silahkan lanjut ke level berikutnya: mendalami ilmu lintas mazhab dan hal-hal yang lebih kritis serta kompleks. Jika seorang pemula langsung mempelajari ilmu tingkat atas.
Seperti langsung mempelajari perbedaan pendapat para ulama, kajian lintas mazhab, dan pelajaran yang lebih kritis lainnya, hal ini bisa membahayakan si pelajar.
Mulai dari keraguan berpikir, kebingungan, sampai akhirnya putus asa untuk belajar. Sederhananya, semua harus dilakukan sesuai porsi. Layaknya bayi yang baru lahir, tidak mungkin langsung disuapi nasi.
Dalam sebuah kaidah disebutkan,
مَنْ اسْتَعْجَلَ الشَّيْءَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ.
Artinya: “Barangsiapa terburu-buru terhadap sesuatu, padahal belum saatnya, maka akan terhalang untuk memperolehnya.”
Peserta Majlis Ta’lim atau Pelajar pemula yang terburu-buru mengkaji materi-materi tingkat menengah ke atas, hanya akan menyebabkan dirinya terhalang mendapatkan ilmu.
Ada ungkapan menarik yang penting kita renungkan,
مَنْ حَفِظَ الْمُتُوْنَ حَازَ الْفُنُوْنَ، مَنْ حَوَى الْحَوَاشِيَ مَا حَوَى شَيْءٌ.
Artinya: “Barangsiapa menghafal matan-matan, akan memperoleh beberapa fan ilmu. Barangsiapa terburu membaca hasyiyah, tidak akan memperoleh apa-apa.”
Dalam lingkungan pesantren, dikenal kitab matan, syarah, dan hasyiyah. Matan merupakan kitab pertama, sementara syarah adalah penjelas dari matan, dan hasyiyah sebagai penjelas dari syarah.
Dalam arti lain, penjelasan kitab syarah lebih luas dibanding matan, dan kitab hasyiyah lebih luas dibanding kitab syarah.
Sehingga tahapannya, mengkaji matan dulu, dilanjut syarah, kemudian hasyiyah. Oleh karena itu, ungkapan di atas mengatakan bahwa orang yang menghafal matan terlebih dahulu, akan memperoleh pemahaman yang baik.
Sebaliknya, jika langsung mengkaji kitab hasyiyah, justru tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena belum levelnya. Sebagai salah satu contoh. Kitab Taqrib karya Syekh Abu Syuja’ (w. 500 H) merupakan kitab fikih mazhab Syafi’i dalam kategori matan. Untuk syarahnya adalah kitab Fathul Qarib karya Syekh Syamsuddin al-Ghozi (w. 918 H).
Sementara kitab hasyiyahnya menggunakan Al-Bajuri karya Syekh Ibrahim bin Muhammad Qasim al-Bajuri (w. 1860 M).
Terkait urgensi memulai dari yang dasar bagi pelajar pemula, kita bisa meneladani salah satu metode tadarruj (bertahap) dalam dakwah yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Tadarruj merupakan metode dakwah dengan cara bertahap sesuai situasi dan kondisi. Siti ‘Aisyah ra berkata,
إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنْ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا
Artinya: “Sesungguhnya yang pertama-tama kali turun darinya adalah surat Al-Mufasshal yang di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka. Dan ketika manusia telah condong ke Islam, maka turunlah kemudian ayat-ayat tentang halal dan haram.
Sekiranya yang pertama kali turun adalah ayat, ‘Janganlah kalian minum khamer.’ Niscaya mereka akan mengatakan, ‘Sekali-kali kami tidak akan bisa meninggalkan khamer selama-lamanya.’
Dan sekiranya juga yang pertama kali turun adalah ayat, “Janganlah kalian berzina.’ Niscaya mereka akan berkomentar, ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya.”
Berkenaan ucapan Siti ‘Aisyah di atas, Ibnu Hajar dalam Fahtul Bari menjelaskan, ajaran pertama kali yang dibawa oleh Islam untuk orang-orang Makkah adalah tantang tauhid, janji surga bagi orang yang beriman, dan ancaman neraka bagi orang bermaksiat dan kafir.
Ketika jiwa mereka sudah tenang, baru kemudian mengajarkan persoalan hukum. (lihat Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz, 8 hal. 669) Andai saja langsung mengajarkan hukum, seperti mengharamkan mengkonsumsi khamr (minuman keras), tentu Islam akan sulit diterima.
Pasalnya, mengkonsumsi khamr sudah menjadi kebiasaan hidup orang Mekah, dan mereka begitu menikmatinya. Jika langsung diharamkan, pasti mereka sangat terusik dan hampir mustahil mereka menerima ajaran Islam.
Meski kemudian khamr diharamkan, itu pun dengan proses yang panjang. Dari metode tadarruj tersebut, juga sama kaitannya dengan proses belajar.
Jika pelajar tingkat pemula langsung mengkaji pelajaran tingkat menengah ke atas, tanpa memulai dari yang bawah dulu, rasanya mustahil memperoleh ilmu.
Sebagaimana jika fase awal dakwah langsung mengajari persoalan hukum, pasti Islam sulit diterima oleh orang Mekah kala itu.
Demikianlah, dalam proses belajar, metode sangat mendukung kesuksesan belajar. Mengutip ungkapan almagfurlah KH Abdullah Sykuri Zarkasyi (Pengasuh Pesantren Gontor),
المادة مهمة و لكن الطريقة أهم من المادة
Artinya: “Materi pembelajaran memang penting, tapi metode pembelajaran jauh lebih penting”. (*)
Baca juga :

