GURU, ORANG TUA Ke-Dua
Oleh: Bagus Suparjiyono, S.Pd., M.Si.
– Pemerhati Anak Ogan Komering Ulu
– Manager genza EDUCATION Baturaja
– Dosen luar biasa Universitas Baturaja Baturaja
Pendidikan tanpa sekolah lebih mudah daripada pendekatan belajar yang lebih terstuktur, karena ada lebih sedikit tugas formal yang harus dikerjakan.
Tidak ada pelajaran untuk direncanakan, tidak ada ceramah atau tugas untuk diberikan, tidak ada tes untuk ditulis dan dinilai.
Pendidikan tanpa sekolah juga lebih sulit dalam hal bahwa setiap orang selalu siap untuk belajar, apa saja dan segalanya menjadi kegiatan yang “mendidik”
dalam bidang kemanusiaan, di sekolah, guru berperan sebagai orang tua kedua, yang memberi dan membangun motivasi murid-muridnya untuk belajar serta menambah wawasan dalam berbagai hal.
Dalam bidang kemasyarakatan, guru bertugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik serta bertanggung
Dewasa ini sering kita temukan perilaku siswa yang tidak sesuai dengan tata krama dan sopan santun. Perilaku tersebut di antaranya siswa yang berbicara tidak sopan, suka marah–marah, berkelahi dengan teman, malas belajar, tidak mengerjakan tugas–yang diberikan guru, bahkan sering membolos sekolah.
Kondisi tersebut secara umum hampir dapat kita temui di setiap sekolah, ada beberapa siswa yang berperilaku seperti tersebut di atas.
Guru memiliki beberapa peran di sekolah. Selain sebagai pendidik dan pengajar peran guru yang tidak kalah pentingnya adalah guru sebagai orang tua di sekolah.
Sebagai orang tua di sekolah guru diharapkan mampu mendidik dan membimbing siswa siswinya dengan kasih sayang, memperlakukan mereka seperti anak kita, tentunya dalam hal yang berhubungan dengan sekolah.
Anak–anak adalah generasi penerus kita, hendaknya sebagai guru kita mewariskan sikap yang terpuji kepada mereka. Keberhasilan siswa bukan hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang disampaikan guru di sekolah saja, melainkan juga bagaimana dengan akhlak, sikap, sifat dan mentalnya.
Guru bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik akhlak, sikap, sifat dan perilaku juga mentalnya.
Bagaimana guru bisa menjadi orang tua kedua bagi siswa di sekolah? Guru harus menunjukkan sikap, sifat perilaku yang terpuji.
Guru harus bersifat sabar , kadang kita menemukan siswa yang tingkah lakunya tidak menyenangkan dan sulit diatur. Guru hendaknya tetap bersabar menghadapi perilaku anak didik jangan sampai terbawa emosi yang berlebihan.
Marah sedikit boleh tetapi jangan sampai terlalu berlebihan menyebabkan ketakutan. Anak–anak bahkan tertekan ketika belajar bersama guru pemarah tersebut.
Sabar dalam arti guru juga tidak segan untuk menegur siswa yang melakukan kesalahan. Guru menegur bukan karena guru yang kejam, guru yang jahat tetapi guru menegur karena sayang dan tidak ingin siswanya terjerumus ke dalam hal yang buruk.
Guru yang penuh kasih sayang sebagaimana kita sebagai orang tua mendidik anak dengan kasih sayang yang tulus begitu juga dengan mendidik siswa.
Apalagi yang kita hadapi siswa kelas rendah mereka masih membutuhkan kasih sayang yang penuh dari orang tuanya seperti itu juga terbawa di sekolah.
Contoh hal dalam ibadah, misalnya masih belum bisa membaca doa, mereka tidak segan meminta gurunya untuk mengajari mereka.
Guru hendaknya memenuhi permintaan anak tersebut sambil mengajari bagaimana beribadah yang benar Jangan sampai guru marah–marah hanya karena hal belum hafal baca doa.
Guru yang penuh perhatian anak–anak akan merasa diperhatikan dan merasa dekat dengan guru mereka. Guru akan mudah mengarahkan dan membimbing mereka menjadi anak yang berperilaku yang baik pula.
Akan tetapi kedekatan yang terjalin jangan sampai menjadikan siswa melunjak terhadap guru. Tetapi tetap dalam batasan–batasan yang wajar. Siswa akan merasa benar–benar memiliki orang tua kedua di sekolah.
Orang tua adalah orang yang paling mengerti dan memahami anaknya. Demikian halnya dengan guru, selayaknya kita menjadi guru yang bisa mengerti dan memahami bagaimana anak didik kita.
Jangan sampai kita menjadi guru yang cuek, tidak mau tahu terhadap anak didik kita. Selalu ramah murah senyum sehingga mereka merasakan bagaimana bapak ibu guru memperhatikan mereka.
Sebagai guru suasana hati kita tetap berusaha untuk selalu tersenyum sambil tentunya menyapa dengan ramah anak didik kita.
Guru tidak akan pernah tahu kelak mereka akan menjadi apa, tapi yang kita perlu mengerti bagaimana mereka bisa sukses meraih cita–cita dengan bimbingan orang tua kedua yaitu guru. (*)












