Hati Keras dan Kotor Penghalang Ilmu Masuk
Persembahan :Ust.Yasin
Sejatinya manusia merupakan makhluk yang banyak salah dan pelupa. Sejak dilahirkan sampai dewasa, pasti memiliki kesalahan, terutama kepada sesama manusia.
Bisa jadi hati kita keras dan gelap, karena merasa sombong, merasa memiliki sedikit kelebihan dari orang lain.
Seperti orang yang akan kita mintai maaf lebih muda dari kita, lebih miskin, atau status sosial dan jabatannya lebih rendah dari kita.
Inilah yang sangat disayangkan dan dikhawatirkan, karena mungkin kita memiliki penyakit hati yang keras.
Hati merupakan Rahasia Allah SWT yang terbentang luas dalam diri penciptaan manusia.
Bahkan nafsu yang melekat pada diri seseorang memiliki rahasia agar manusia bisa melawannya untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Terkait rahasia Allah yang melekat pada diri manusia, Direktur Sufi Center KH M Luqman Hakim mengungkapkan rahasia pikiran, akal, nafsu, hati, dan ruh. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu, pikiran seseorang menjadi sumber ilmu pengetahuan yang dapat mencerahkan hati.
“Pikiran ada agar menjadi pencerah hatimu menembus cakrawala pengetahuan,” ucap Kiai Luqman dikutip NU Online, Rabu (18/9) lewat twitternya.
Begitu juga dengan akal manusia yang membedakan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya.
Kiai Luqman menjelaskan bahwa akal manusia agar menjadi mata hati untuk memilah dan memilih yang benar dan yang batil.
“Akalmu, agar jadi matahatimu untuk memisahkan mana yang benar dan yang bathil,” terang penulis buku Psikologi Sufi ini.
Ia juga mengungkapkan bahwa nafsu pada diri manusia diciptakan untuk menjadi lawan.
“Nafsumu, agar menjadi lawanmu,” jelasnya. “Hatimu agar memutuskan pilihan-pilihanmu. Ruhmu, agar kamu hidupkan hatimu,” ujar Kiai Luqman.
Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu manusia terbagi menjadi tiga.
Pertama, An-nafs al-ammarah bissu’.
Apabila nafsu ini meninggalkan tantangan dan tunduk serta taat kepada tuntutan nafsu syahwat dan dorongan-dorongan setan. Nafsu ini mendorong kepada kejahatan.
Kedua, An-nafs al-lawwamah. Apabila ketenangan tidak sempurna, akan tetapi menjadi pendorong kepada nafsu syahwat dan menentangya. Nafsu ini juga mencaci pemiliknya ketika ia teledor dalam beribadah kepada Allah. Nafsu ini pula sumber penyesatan karena ia patuh terhadap akal, kadang tidak.
Ketiga, An-nafs al-Muthmainah. Apabila dia tenang, di bawah perintah dan jauh dari goncangan disebabkan menentang nafsu syahwat.
Dari ketiga nafsu tersebut, Kiai Luqman menjelaskan bahwa mengembalikan segalanya kepada Allah SWT adalah kunci pengendalian nafsu.
“Demi meraih ridho dan diridhoi Allah. Apa yang bergolak sebenarnya hanyalah sirkuit nafsu kita,” tutur Kiai Luqman.
Menurutnya, justru ketika manusia berpacu dengan nafsu, maka kepuasan lahir dan batin tidak akan diraihnya dalam hidup.
“Jika anda berpacu di sana, anda tak meraih kepuasan. Jangan ada gengsi dan malu untuk kembali kepada-Nya. Allah SWT menunggumu,” tandasnya.
Hati yang keras dan kotor juga menjadi penghalang ilmu masuk, sehingga penyebab susahnya dinasehati bagi hati yang keras ini melatarbelakangi kebodohan pemilik hati tersebut.
Dalam firman Allah SWT di QS Al-jum’ah Ayat dua berbunyi sebagai berikut.
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Dalam ayat ini menjelaskan kata-kata wa “yuzakkihim wa yu’allimuhumul kitab” dalam ayat tersebut. “Sebelum belajar atau mengajar, yuzakki, bersihkan hati (dulu),” maksud yang dikehendakinya.
Sehingganya perlu bagi pelajar dan pengajar untuk sama-sama membersihkan hati agar ilmu yang disampaikan tepat sasaran dan tidak menghasilkan yang tidak kita inginkan. Murid pintar guru tenang dalam mengajarkan. Semoga bermanfaat…. (*)









