Mengenali Hamba Sebagai Asbab, Tajrid, Syahwat dan Himmah
Persembahan Ust. Yasin
Pada Minggu kedua (17-08-2024) pembahasan kitab hikam adalah ( Asbab). Sebab-sebab dimaksudkan sebagai ungkapan atas suatu usaha yang akan mengantarkan untuk bisa sampai pada tujuan memeproleh keduniaan.
Sedangkan At-Tajrid adalah suatu ungkapan dari suatu sikap hidup yang tidak menyibukkan diri melakukan sebab-sebab atau usaha pencarian untuk mengejar kepentingan duniawi.
Barang siapa yang ditempatkan oleh Allah dalam posisi sebagai golongan manusia yang harus berusaha dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya (Maqom Kasab),
Sementara ia harus keluar dari maqom itu, maka yang demikian itu merupakan keinginan syahwat halus.
Karena ketidak-nyamanan atas kehendak Allah yang telah menempatkannya pada posisi semacam itu.
Sementara keinginannya itu merupakan sebuah kehendak yang berlawanan dengan kehendak Allah swt.
Mutiara hikmah sang pengarang saya kutib seperti di bawah ini
إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ
“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”
“Jika Tuhan hendak menampakkan Karunia-Nya kepadamu, maka Dia ciptakan amal dan kemudian dinisbatkannya kepadamu.” (Al-Hikam – Ibn Athaillah).
Seringkali kita terpesona dengan cara Allah menuntun kita membuka jalan menuju ladang amal kebaikan.
Dibentangkannya kesempatan untuk kita menunaikan janji, mengabdi dan mengamalkan apa yang telah Tuhan ajarkan sebelumnya kepada kita.
Tuhan bekerja dengan cara-Nya, lantas semua kesuksesan itu dinisbatkan kepada kita. Seolah-olah itu semua hasil kerja keras dan perjuangan kita.
Dalam pasal ini, Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajrid, asbab, syahwat dan himma.
Tajrid secara bahasa memiliki arti: penanggalan, pelepasan, atau pemurnian. Secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari jiwa (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian jiwa.
Murni dari kesibukan dunia karna seharusnya makom tajdrid terbebas karnanya (ketajridannya) bebas menjadi sebab kehadiran dunia karna kasabnya yang tak disadari memiliki makom tersebut.
Sementara makom Asbab secara bahasa memiliki arti: sebab-sebab atau sebab-akibat. Secara maknawi adalah status jiwa (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat.
Semisal keberadaan penguasa Iskandar Zulkarnain yang Allah tempatkan sebagai raja di dunia, mengurusi dunia sebab-akibat.
Syahwah (atau syahwat) secara bahasa memiliki arti: tatapan yang kuat, atau keinginan. Secara maknawi merupakan keinginan kepada bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis.
Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu (disingkat “nafsu”) adalah keinginan kepada bentuk-bentuk non-material, seperti ego, kesombongan, dan harga diri. Kemudian Himmah yang merupakan lawan kata dari syahwat, yang juga memiliki arti keinginan.
Namun bila syahwat merupakan keinginan yang rendah (kurang Baik), maka himmah adalah keinginan yang tinggi (Baik dan murni), keinginan menuju Allah.
Sebenarnya semua itu hanyalah Karunia-Nya kepada kita karena Dia-lah yang menciptakan amal untuk kemudian kita turut mengerjakannya.
Maka pada setiap amal pekerjaan kita, niatkanlah sebagai bentuk pengabdian kita untuk-Nya. Mengapa demikian? Amal itu bermula dari-Nya dan kita kembalikan hanya kepada-Nya (baikpun tajrid maupun Asbab).
Dia-lah yang Awal dan Dia pula yang Akhir. Inilah teologi amal.
Ibn Athaillah: “Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan.” Cara kita menyambungkan niat kita dengan Allah sebelum melakukan aktivitas menentukan nilai keberhasilan.
Segala amal perbuatan tergantung niat. Begitu pesan Nabi dalam Hadits shahih.
Perlu diingat dan disadari Adakalanya Allah menempatkan seseorang dalam dunia asbab dalam kurun tertentu—misalnya, untuk mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memimpin negara.
Bila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab itu, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar.
Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi.
Sebaiknya Begitu niat sudah kita pasang efeknya dahsyat karena semua gerak panca indera mengikuti niat tersebut. Hati dan pikiran menjadi fokus.
Begitu hebatnya nilai sebuah niat, langsung tercatat sebagai sebuah kebajikan meskipun kelak tak jadi dilaksanakan Ibn Athaillah: “Janganlah cita-citamu tertuju pada selain Allah. Harapan seseorang tak akan dapat melampaui yang Maha Pemurah”.
Pasang niat yang baik di awal, dan tujukan semua akhir kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha Pemurah. Seberapa pun besar harapan yang kita tujukan padanya, semua akan berada dalam jangkauan rahmat-Nya. Rahmat-Nya yang meliputi semuanya.
Inilah pentingnya untuk berserah diri dalam dalam menerima ketentuan makom baik tajrid maupun asbab, agar mengetahui kapan seseorang harus tajrid dan kapan seseorang harus terjun dalam dunia asbab.
Semua kehendak seorang salik haruslah bekesesuaian dengan Kehendak Allah. Maka janganlah berputus asa baik di awal perbuatan, di tengah maupun di akhir karena sudah kita letakkan harapan di Tangan-Nya “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya.
Dan siapa yang mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya.”
Ibn Athaillah kembali mengajarkan kita bahwa sebaiknya kita ikat nikmat pemberian Allah itu dengan rasa syukur. Pemberian Allah yang kita ikat dengan rasa syukur, akan semakin kuat nilainya (kendalikan Syahwat), dan terus bertambah.
Sebaliknya, kufur nikmat akan menghapusnya. Komplit sudah amalan kita jika niat sudah mantap di awal, tujuan amal hanya kepada Allah dan syukur mengikat nikmat di akhir. Terlepas kita sebagai makom tajrid maupun posisi sebagai makom Asbab. Semoga bermanfaat… (*)









