Khazanah Islam

Benarkah Saya NU ?

×

Benarkah Saya NU ?

Sebarkan artikel ini
Ust.Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU

Benarkah Saya NU

Persembahan Ust.Yasin
Columnis OKUSatu

Saya sangat sependapat dan setuju dengan dawoh Almarhum Yai H, Khoiri Ma’ruf Al-Maghfurlah. Pengasuh pondok pesantren (ROUDLOTUUL MUSLIMIN WAUNG PRAMBON NGANJUK ).

Tempat Yasin ngaji beberapa tahun lalu, tepatnya pada Tahun 1996 saat menghantarkan penulis dan alumni seangkatannya menyelenggarakan Haflah Akhirussanah.

Dawoh beliau terhadap tipikal jamaah NU kurang lebih sebagai berikut ;

Pertama, kata Yai H, Khoiri Ma’ruf Al-Maghfurlah “jamaah NU adalah orang yang tidak tahu ciri ajaran Aswaja Annahdliyah, seperti tawassuth, tawazun, dan sebagainya, tapi bangga mengaku ‘Saya NU’.

Kedua, lanjut Beliau, kelompok orang yang tahu bagaimana sebenarnya NU, baik pergerakan, paham yang di bawa NU, dan sikap NU, tetapi lebih memilih diam acuh dan tidak memperdulikan NU akan maju atau mundur.

“Mengaku NU, tapi mereka cuek,” beber Alumni Pondok AL-FALAH PLOSO Kediri, tersebut.

Ketiga, papar Yai H, Khoiri Ma’ruf Al-Maghfurlah, kelompok orang yang hanya ingin memanfaatkan NU untuk ambisi memperoleh jabatan dan posisi.

Karena NU seksi ketika sedang di butuhkan, terlebih di saat momentum politik seperti pemilu maupun pemilihan kepala daerah.

“Slogannya ‘Yuk hidupi NU’, padahal mereka  hidup di NU,” imbuh Yai H, Khoiri Ma’ruf Al-Maghfurlah….

Keempat, orang yang paling membenci NU, tapi agar selamat mereka mengaku warga NU.

Terakhir, jenis kelima ialah orang yang berpengetahuan, benar-benar ikhlas mengabdi kepada jam’iyah tanpa mengharapkan apa-apa.

 

Baca juga :

Tetap Bersyukur dalam Kekinian

Ustad Yasin Nahkodai PC DMI Peninjauan, Begini Program yang Digulirkan

NU Organisasi Unik

Sebenernya Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan yang sangat unik.

Sebagai organisasi yang di motori oleh kiai-kiai di pesantren, NU ternyata sering kali melahirkan pemikiran yang sangat modern dan sepak terjangnya kerap di luar dugaan.

Dalam demo berjilid-jilid terkait tuduhan penistaan agama oleh Ahok beberapa tahun lalu misalnya, NU justru menahan diri untuk tidak turut larut dalam gegap gempitanya aksi-aksi  yang dilabeli “Bela Islam”.

Keunikan yang di miliki NU dan sepak terjangnya yang sulit di prediksi itu, membuat banyak kalangan gagal memahami NU.

Bahkan tidak sedikit orang yang merasa menjadi bagian dari warga NU, tetapi sesungguhnya ia tidak memahami NU.

NU Rasa

Sehingga muncul istilah “NU rasa salafi”, “NU rasa wahabi” dan sebagainya.

Dia merasa sebagai orang NU tapi cara pandangnya seperti, salafi, wahabi dan sebagainya.

Bukan cuma itu. Sejumlah kiai dan pesantren tertentu yang aqidah dan amaliahnya sama dengan NU

Tapi karena tidak memahami NU, mereka terkesan mengambil jarak dengan NU, malah ada pula yang nyinyir jika bicara soal NU.

Kendati demikian, NU tidak pernah nampak gamang, seolah tidak merasa butuh untuk dipahami.

NU membiarkan orang untuk mau memahami atau tidak memahaminya.

NU tetap konsisten dalam kemandirian berpikir dan bertindak. Sebab bagi NU sendiri sudah jelas peran apa yang harus dilakoni.

Sebagaimana di ketahui, NU di dirikan oleh para tokoh ulama Ahlussunah wal Jamaah.

Pendiri yakin dan telah banyak melihat bukti nyata, bahwa NU di bentengi oleh para kiai dari pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara.

Untuk apakah para ulama yang sudah berkiprah di pesantren harus pula membuat organisasi yang kemudian di beri nama Nahdlatul Ulama?

Dari sini sudah jelas, NU bukanlah semacam majelis taklim atau sejenisnya.

Sebab jika semata hanya untuk mengurusi persoalan agama dan internal umat Islam, para kiai sudah melakukannya di pesantren-pesantren.

Tapi sejak mulanya, ketika masih berupa embrio bernama Komite Hijaz, NU memang sudah di rancang oleh para kiai untuk di persembahkan kepada Indonesia dengan kebhinekaannya, dengan kemajemukannya, dan dengan pluralitasnya.

Kalau boleh meminjam perumpamaan yang di buat Emha Ainun Najib, maka ibarat restoran pesantren adalah dapurnya, sedangkan NU adalah ruang depan tempat masakan di sajikan.

NU Berperan Tampilkan Islam

Pesantren adalah tempat mempelajari Islam, sedangkan NU berperan untuk menampilkan Islam dalam rule of game yang berlaku di Indonesia yang plural.

Peran NU itulah yang sering disalah pahami oleh orang-orang yang hanya mempelajari Islam, tetapi tidak kemudian belajar bagaimana hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia yang bhineka tunggal ika.

Sebab mereka hanya mempelajari Islam untuk ruang internal, Islam yang masih berada di ‘dapur restoran’.

Mereka belum belajar bagaimana ‘menyajikan’ Islam dalam ruang kebangsaan.

Maka alangkah mubadzir dan membuang-buang energi saja, jika NU harus melayani kenyinyiran mereka yang gagal paham.

Lebih tepat dan akan Lebih baik saat NU bersikap seperti yang dikatakan pepatah:

“Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”.

Buat pembaca dan para peserta konfercab NU Kabupaten OKU, penulis ucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya KONFERCAB NU OKU Ke-6.

Semoga goresan tinta ini bisa menjadi sedikit acuan dalam memilih pengurus PC NU lima Tahun kedepan.

Dan tak lupa ucapan terimakasih pada pengurus Periode lima tahun yang lalu. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News