Awal Tahun 2025 dan Konfercab NU OKU
Persembahan Ust. Yasin
Kepemimpinan Gus Dur adalah warisan istimewa, tidak hanya bagi NU
tetapi juga bagi seluruh warga negara Indonesia.
Gus Dur memiliki kemampuan
luar biasa untuk memimpin, menginspirasi, dan menciptakan transformasi pola pikir dan tindakan masyarakat NU.
Gus Dur, sebagai individu, mampu mendorong terjadinya perubahan besar. Dalam masa kepemimpinannya, ia berhasil mentransformasi pola pikir satu generasi penuh.
Saya dan generasi seangkatan saya
di NU yang tumbuh di era Gus Dur merasakan perubahan itu secara langsung. Gus Dur menginspirasi kami untuk berpikir lebih luas, melangkah lebih jauh, dan bercita-cita lebih tinggi.
Generasi saya, yang dibentuk oleh pengaruhnya, hidup dalam bayang-bayang teladan itu. Namun, fakta bahwa kepemimpinan istimewa seperti Gus Dur sulit ditemukan lagi memaksa kita mencari pendekatan baru.
Gus Dur telah membawa kita melakukan lompatan besar, dan kita tidak mungkin menyia-nyiakan hasil kerja kerasnya untuk menjadikan NU mundur lagi.
Kita memerlukan hasil yang
sebanding dengan transformasi yang sudah dicapai oleh Gus Dur. Ketika tak ada lagi seorang pemimpin yang mampu mengangkat beban seorang diri, langkah
paling masuk akal adalah kita mengangkatnya bersama-sama.
Seluruh struktur organisasi harus memikul tanggung jawab secara kolektif, sebab kita tidak lagi memiliki satu figur sentral seperti Gus Dur, yang kepadanya kita bisa merasa tenteram menyerahkan semua urusan. Inilah alasan utama bagi konsolidasi organisasi.
DalM perjalanan panjangnya sebagai organisasi satu abad lebih
(berdasarkan kalender Hijriyah dan menuju satu abad berdasarkan kalender
Masehi), Nahdlatul Ulama (NU) telah melewati berbagai dinamika, baik internal, eksternal, maupun dalam hubungan organisasi ini dengan negara.
Ketika NU tumbuh membesar, ia harus bergulat tidak saja dalam menjaga keutuhan organisasi, tetapi juga dalam menempatkan diri secara layak sesuai dengan visi dan misi yang dirumuskan oleh para ulama pendirinya.
Untuk membangun peradaban mulia di
dalam kehidupan bersama umat manusia.
Pergulatan ini niscaya menghadirkan
tantangan yang kompleks, mulai dari menjaga integritas struktur hingga
memastikan visi keagamaan dan kebangsaan tetap sejalan di tengah arus perubahan yang kerap menguji ketangguhan organisasi.
Dan semua pergulatan internal dan
eksternal itulah yang telah menempa NU dan membentuk sosoknya hari ini.
Ada beban sejarah di kedua bahu kita, ada bayang-bayang kharisma para pendahulu, dan tidak sedikit pula warisan masalah yang menumpuk dari waktu ke waktu, karena tak sempat teratasi pada periode-periode sebelumnya, sementara di depan sana terbentang berbagai tantangan baru yang sangat kompleks.
Dalam situasi ini, muncul pertanyaan mendesak: Apa langkah yang harus kita ambil sekarang? Tantangan-tantangan ini memerlukan semua energi—baik fisik,
intelektual, maupun spiritual—untuk menghadapinya.
Beberapa tahun lalu, atau bahkan beberapa bulan lalu, kita mungkin tidak membayangkan akan menghadapi
hal-hal yang harus kita hadapi hari ini.
Kita tahu bahwa NU, sebagai organisasi
massa keagamaan terbesar dan dengan pengaruh yang luas, akan selalu berjalan
beriringan dengan segala macam ekspektasi yang berbeda dari berbagai kalangan tentang peran dan arah geraknya.
Ada yang berharap NU menjadi lebih progresif, sementara yang lain ingin agar organisasi ini tetap konservatif sebagai penjaga gerbang moral.
Kritik-kritik ini, meski kadang terdengar keras, kita terima dengan sikap terbuka dan kerendahan hati yang telah dicontohkan oleh para ulama pendahulu.
NU tidak menutup diri dari masukan, yang memang akan selalu kita perlukan
sebagai bahan pertimbangan untuk memastikan bahwa, setiap langkah organisasi tetap dalam koridor maslahat umat dan tetap menghormati warisan besar para pendirinya.
Sejak awal masa kepengurusan ini, pasca-Muktamar Lampung,
Desember 2021, fokus utama PBNU adalah konsolidasi. Tema ini, yang muncul setelah refleksi tentang sejarah panjang NU dan tahun-tahun tersulit dalam
perjalanannya, menjadi inti dari seluruh inisiatif yang dilakukan dan akan terus
menjadi prioritas hingga muktamar berikutnya.
Konsolidasi merupakan langkah mendasar untuk meningkatkan kapasitas NU dalam merespons tantangan. Hal diatas akan menggambarkan secara keseluruhan NU kebawahnya, NU provinsi,
NU kabupaten hingga NU tingkat PAR.
NU adalah organisasi besar yang mengusung panji kebenaran (al-haqq).
Namun, tanpa konsolidasi dan pengaturan yang baik (Binnidhom), NU akan sulit
mengatasi tantangan yang dihadapinya.
Maka, sebelum memikirkan gagasan besar atau program inovatif lainnya, saya pikir langkah pertama yang harus dilakukan
adalah konsolidasi.
Konsolidasi ini bertumpu pada dua elemen utama: koherensi dan kinerja. Kita memerlukan organisasi yang koheren, sehingga seluruh elemen dalam organisasi NU bisa bekerja secara harmonis seperti halnya tubuh yang sehat, yang setiap organnya bergerak secara terkoordinasi.
Ketika kita melangkah, kaki
kiri dan kanan, tangan kanan dan kiri, semuanya bergerak selaras. Tidak mungkin kita menempuh perjalanan, dan tiba di tempat yang kita tuju, dengan satu kaki melangkah ke barat sementara kaki lainnya ke selatan.
Jika PCNU bergerak ke utara, sementara Majelis Wakil Cabang (MWC) berlari ke timur, organisasi ini tidak akan pernah mencapai tujuannya. Begitu pula, jika Suriah ke barat dan Tanfidziyah ke selatan, NU hanya akan menjadi organisasi yang stagnan.
Koherensi adalah prasyarat yang harus dipenuhi agar NU memiliki orientasi yang jelas, mampu melangkah selaras, dan tiba di tempat tujuan bersama.
Aspek berikutnya adalah kinerja. Kinerja yang optimal memastikan NU mampu
merespons tantangan secara efisien. Persoalan akan selalu ada.
Tanpa kinerja yang baik, NU akan tertinggal dalam menghadapi persoalan-persoalan yang terus
muncul.
Kinerja bukan melulu tentang keberhasilan mencapai target; ia juga
berurusan dengan cara kita menjalankan peran masing-masing secara tepat. (*)











