Khazanah IslamOKU RAYASumsel

Ikhlas Menurut Para Ulama Sufi

×

Ikhlas Menurut Para Ulama Sufi

Sebarkan artikel ini
Ust.Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU

Ikhlas Menurut Para Ulama Sufi

Oleh Ust.Yasin

Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan sebaik apapun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah subhânahû wa ta’âlâ.

Di dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah.

Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran (Ali Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1983], hal. 14).

Dalam berbagai kesempatan kajian ilmiah Prof. Dr. M. Qurais Shihab seringkali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang penuh air putih.

Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun. Itulah yang disebut dengan ikhlas.

Seseorang melakukan satu amalan hanya karna Allah semata, tak ada satu pun motivasi lain yang mencampurinya. Tak ada harapan surga, tak ada keinginan enaknya hidup di dunia, semua murni karena menghamba kepada Allah saja.

Beberapa pengertian ikhlas menurut para ulama sufi, adalah terapi atas maraknya masyarakat modern dalam memburu hasrat dan ambisi akan popularitas, kemasyhuran diri dan politik pencitraan yang dianggapnya sebagai sumber kebahagiaan.

Padahal sejatinya, hasrat akan kemasyhuran mendorong orang akan menyibukkan diri pada urusan urusan tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat bagi manusia.

Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk hanya mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli orang lain.

Bagi para sufi, hasrat akan popularitas merupakan bentuk ketidaktulusan dalam bekerja.

Ia di sebut riya’ dan itu adalah perbuatan yang terlarang yang menyebabkan penderitaan bagi pelakunya. Sedangkan ikhlas merupakan sumber kebahagiaan bagi yang melakukannya.

Seperti yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW; dalam hadis riwayat al – Baihaqi;

طو بى للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا, واذا غا بوا لم يفتقدوا اولئك مصابيح الهدى تنجلى بهم كل فتنة ظلماء

Yang artinya kurang lebih demikian, “ Aduhai betapa bahagia mereka yang berhati ikhlas: mereka yang ketika hadir tak di kenal. Manakala pergi mereka dicari kesana kemari.

Mereka itulah obor obor yang menerangi jalan. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang–orang dzolim”.

Mereka yang berhati ikhlas itulah para Sufi, mereka adalah matahari–matahari dunia yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan, sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia.

Para sufi, mendefinisikan ikhlas sebagaimana pengalaman ruhaninya dalam menempuh spiritualitas, seperti halnya seorang sufi besar dari Mesir, Syekh Dzunnun al Misri, dalam Risalah al Qusyairiyah; mendefinisikan ikhlas secara aplikatif  demikian ,

ثلا ث من علا ما ت الاخلاص : إستوالمدح والذ م من العامة , ونسيا ن رؤ ية العمل فى الا عما ل ونسيا ن إعتضا ء ثواب العمل فى الا خرة

Artinya; “ Ada tiga tanda keikhlasan seseorang: jika ia menganggap pujian dan celaan orang sama saja, jika ia melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain, dan jika ia lupa hak kerja baiknya untuk memperoleh pahala di akhirat” .

Dan menurut sang hujjatul Islam sufi agung pakar hukum Islam Imam Abu Hamid al Ghazali dalam kitab Qāmi’u al thughyān ia mendefinisikan;

الإ خلا ص هو ان يكون غرضه مخض التقرب الى الله تعا لى

“Ikhlas adalah apa yang ada dalam tujuan amal murni untuk mendekatkan diri kepada Allah”.

Senada dengan imam Hamid al–Ghazali, Syaikh Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al- Qusyairi An-Nasyaiburi dalam kitabnya yang terkenal dalam ilmu Tasawuf Risalah Qusyairiyah, mendefinisikan ikhlas adalah penunggalan al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan, untuk mendekatkan diri hanya kepada Allah semata.

Syekh al-Junaid al Baghdadi mengatakan “Ikhlas adalah Rahasia antara Allah dan hambanya, tidak ada malaikat yang mengetahui dan mencatatnya, tidak ada syetan yang mengetahui dan merusaknya, dan tidak ada hawa nafsu yang mengetahui lalu menyodongkannya”.

Pengertian Syekh al Junaidi al-Baghdadi ini seperti halnya yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW:

سأ لت جبريل عليه السلا م عن الا خلإص , ما هو  ,فقا ل جبريل عليه السلام   سأ لت رب العزة تبا رك وتعا لى عن
الإ خللا ص ، ما هو , فقا ل ر ب العزة تبارك وتعا لى  : الإخلا ص سر من سري او دعته قلب من احببت من عبا د ى

“Saya ( nabi ) bertanya kepada Jibril tentang makna ikhlas . Apakah ikhlas itu ? Aku (Jibril) telah menanyakan hal ini kepada Tuhan, dan Dia menjawab : ikhlas itu merupakan salah satu Rahasia Ku, yang Aku tempatkan di hati hamba–hamba–Ku yang aku cintai”.

Betapa beruntungnya manusia yang di beri anugerah keikhlasan dalam beramal, bekerja, dan beribadah, karena dicintai oleh Sang Maha Kasih Allah SWT, pasti meraih kemanfaatan dan kebahagiaan.

Lalu bagaimana agar amal, bekerja, dan beribadah dengan ikhlas? Syekh Athoilash as-Sakandari sang Sufi agung dalam kitabnya yang fenomenal ‘Al-Hikam memberikan cara terapi agar amal  bisa ikhlas dan bermanfaat, dalam satu maqalah hikmahnya ia berkata :

إد فن وجو د ك  فى ارض الخمو ل   فما نبت مما لم يد فن لا يتم تتا ئجه

“Sembunyikan wujudmu, pada tanah yang tak dikenal. Sebab, sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak di tanam tak akan berbuah sempurna”.

Kiai Husein Muhammad mengartikan hikmah ini, demikian “Simpanlah hasratmu akan popularitas, karena hasrat yang demikian itu tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna.

“Terapi ikhlas yang ditawarkan syekh Athailah ini, agar hidup, tumbuh dan berkembang dengan manfaat dan meraih kebahagiaan. Terbebas dari belenggu manipulasi realitas sebuah citra untuk kepentingan tertentu, yang mencipta fatamorgana sosial, yang di dalamnya tanda-tanda (simbol-simbol) telah tercerabut dari kebenaran. Citra akan popularitas memangsa dunia realitas dan membunuh kebenaran.

Itulah sebabnya kenapa bekerja dan beribadah harus dilandasi dengan ikhlas, ada yang mengatakan bahwa ikhlas adalah ruhnya amal, jika amal tanpa ikhlas seperti halnya jasad tanpa ruh, dalam bahasa lain beramal perlu adanya ketulusan dan keikhlasan. Orang jawa menyebutnya

“Sepi ing pamrih rame ing gawe”

(sepi dalam berharap dan semangat atau ramai dalam bekerja).

Dengan pekerjaan seperti inilah yang akan melahirkan peradaban manusia yang beradab dalam menata kemajuan organisasi dan bangsanya.

Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain hal di atas?

Semisal orang beribadah, berkarya dan berupaya dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat.

Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas. Beliau menegaskan:

وما عدا ذلك رياء مذموم

Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”

Wallohu a’lam bimurodih….

 

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News