Khazanah IslamOKU RAYASumsel

Bacaan Sholawat dan Faedahnya 3 (selesai)

×

Bacaan Sholawat dan Faedahnya 3 (selesai)

Sebarkan artikel ini
INTI BUDAYA LITERASI
Persembahan Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNBARA, PENGURUS NU DAN PENYULUH AGAMA ISLAM OKU

Bacaan Sholawat dan Faedahnya 3 (selesai)

Ust.Ahmad Yasin

PAI Fungsional Kemenag OKU

Keutamaan membaca shalawat terdapat dalam berbagai riwayat hadits. Keterangan perihal ganjaran pahala yang berlipat untuk amal shalawat dapat ditemukan pada hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim).

Shalawat nabi memiliki banyak keutamaan bagi yang mengamalkannya.

Selain soal ganjaran pahala, amal shalawat nabi juga dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat orang yang mengamalkannya sebagaimana hadits riwayat An-Nasa’i berikut ini:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya, “Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan,” (HR An Nasa’i)

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam akhir karyanya Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya mengutip sepuluh keutamaan yang didapat oleh mereka yang membaca shalawat.

Sepuluh keutamaan ini disarikan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW:

1. Shalatul malikil ghaffar (rahmat dari Allah yang maha kuasa dan maha pengampun)

2. Syafa’atun nabiyyil mukhtar (syafaat Nabi Muhammad, nabi pilihan)

3. Al-iqtida bil mala’ikatil abrar (mengikuti tradisi malaikat abrar)

4. Mukhalafatul munafiqin wal kuffar (membedakan diri dari orang munafik dan orang kafir)

5. Mahwul khathaya wal awzar (penghapusan kesalahan dan dosa)

6. Qadha’ul hawa’ij wal awthar (pemenuhan hajat dan harapan)

7. Tanwiruz zawahir wal asrar (penerangan lahir dan batin)

8. An-najatu minan nar (keselamatan dari neraka)

9. Dukhulu daril qarar (masuk ke dalam surga)

10. Salamul azizil jabbar (salam dari Allah yang maha mulia dan kuasa)

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menganjurkan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu tanpa membaca shalawat nabi mengingat banyaknya keutamaan yang terkandung dalam amaliyah shalawat nabi.
اخواني أكثروا من الصلاة على هذا النبي الكريم فإن الصلاة عليه تكفر الذنب العظيم وتهدي إلى الصراط المستقيم وتقي قائلها عذاب الجحيم ويحظي في الجنة بالنعيم المقيم

Artinya, “Wahai para sahabatku, perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi mulia ini. niscaya shalawat itu menghapus dosa besar, menunjuki ke jalan lurus, melindungi orang yang mebacanya dari siksa neraka jahim,” (Sayyid Bakri bin Sayyid

Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Indonesia, Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 119).

Istighfar Nabi Musa AS

Rabbighfirlii waliakhii wa adkhilnaa fii rahmatika wa anta arhamur raahimiin.
Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. al-A’raaf [7]: 151).

Istighfar Nabi Yunus AS
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 87).

Doa Istighfar Nabi Muhammad AS
Rabbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtha’na. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alal ladziina min qablinaa. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi wa’fu ‘annaa waghfirlanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriina.

Artinya:”Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tak sanggup kami terimanya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286).

Keutamaan Istighfar
Mengutip buku Nikmatnya Istighfar oleh Mahmud Asy-Syafrowi (2010), istighfar memiliki sejumlah keutamaan yang luar biasa, di antaranya:

Dosa akan Diampuni

Seseorang yang kerap membaca istighfar dengan niat hati memperoleh pengampunan dari Allah niscaya dosa-dosanya akan dihapuskan. Riwayat ini disampaikan oleh Imam al-Baihaqi dan Ibn Abi ad-Dunya dari Anas bin Malik RA.

“Tidaklah seorang hamba beristighfar 70 kali sehari, kecuali Allah akan ampuni 700 jenis dosa (kecil), sebab tiap harinya seseorang itu sejatinya melakukan lebih dari 700 jenis dosa kecil.”

Terdapat perbedaan pandangan tentang berapa kali Rasulullah membaca istighfar dalam sehari.

Riwayat Imam Muslim, Ahmad, dan at-Thabrani mengabarkan bahwa Nabi Muhammad beristighfar 100 kali.

Memberikan Ketenangan Hati
Selain memperoleh pengampunan, Allah juga akan memberikan ketenangan hati dan pikiran pada hamba-Nya yang taubat dengan mengucap istighfar.

Dalam Hadist Riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Dicintai Allah SWT

Orang yang tidak pernah meninggalkan istighfar juga menjadi golongan yang dicintai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

“Jika kalian mampu untuk memperbanyak istighfar maka lakukanlah. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih mensukseskan di sisi Allah Ta’ala dan lebih dicintai-Nya daripadanya.” (HR. Hakim at-Tirmidzi)

Mendapat Nikmat Allah SWT

Dalam beberapa hadits, diterangkan istighfar dapat mendatangkan rezeki. “Barangsiapa merasa diperlambat atau tersendat-sendat rejekinya, hendaknya ia beristighfar kepada Allah.” (HR. Baihaqi dan Ar-Rabi’i)

Sungguh dahsyat manfaat dari istighfar. Sebagai Muslim yang taat, sudah sepatutnya istighfar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Mari kita kenali sedikit demi sedikit beberapa pangkat dalam klasifikasi istighfar.

Diantaranya ada Sayidul istighfar merupakan lafal istighfar yang paling utama dari sekian bentuk istighfar.

Sayidul istighfar memuat pengakuan nikmat dan dosa. Lafal istighfar terbaik ini juga mengandung pengakuan status penciptaan.

Ini yang membuat sayidul istighfar lebih utama dari bentuk-bentuk istighfar lainnya. Bunyi sayidul istighfar adalah sebagai berikut.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

Artinya, “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Sayidul istighfar mengandung keutamaan yang luar biasa. Keindahan dan bobot lafal pengakuan di dalamnya memberikan nilai khusus bagi pembacanya di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW menyebut ganjaran khusus bagi mereka yang mengamalkan sayidul istighfar pagi dan sore. Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca sayidul istighfar di sore hari, lalu ia meninggal di malam itu, niscaya ia termasuk penghuni surga.

Demikian juga berlaku bagi mereka yang membaca sayidul istighfar di pagi hari, lalu wafat di hari itu juga, niscaya ia termasuk penghuni surga.” Keterangan ini disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar.

Dalam karyanya itu Imam Nawawi memasukkan sayidul istighfar ke dalam doa harian yang dianjurkan untuk dibaca pagi dan sore hari.

Salah satunya adalah mampu menghilangkan kesedihan dan kesempitan hidup. Dengan memohon ampun kepada Allah swt, hati kita akan menjadi tenang dan lapang.

Hal ini dapat membantu kita dalam mengatasi kesedihan dan kesempitan hidup. Selanjutnya, Istighfar Sayyidina Ali ini juga membuka pintu rezeki. Istighfar juga diyakini dapat melapangkan rezeki.

Hal ini dikarenakan dengan sering memohon ampun kepada Allah swt, hati kita akan menjadi bersih dan terbuka sehingga kita dapat melihat dengan lebih jernih berbagai peluang yang ada di sekitar kita.

Pada sisi lain, istighfar Sayyidina Ali ini juga berkhasiat untuk menghilangkan dan mengangkat cobaan. Pasalnya, istighfar juga dapat menjadi sarana untuk memohon kepada Allah swt agar dijauhkan dari berbagai cobaan dan ujian hidup.

Tentu, dengan niat penuh keikhlasan dan ketaatan, Allah swt akan memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita dalam menghadapi berbagai ujian tersebut.

Berikut bacaan istighfar Sayyidina Ali (Arab, latin, dan artinya):
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ قَوِيَ عَلَيْهِ بَدَنِي بِعَافِيَتِكَ، أَوْ نَالَتْهُ قُدْرَتِي بِفَضْلِ نِعْمَتِكَ، أَوْ بَسَطْتُ إِلَيْهِ يَدِي بِسَابِغِ رِزْقِكَ، أَوْ اتَّكَلْتُ فِيهِ عِنْدَ خَوْفِي مِنْكَ عَلَى أَنَاتِكَ، أَوْ وَثِقْتُ بِحِلْمِكَ، أَوْ عَوَّلْتُ فِيهِ عَلَى كَرَمِ عُفْوِكَ.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ خُنْتُ فِيهِ أَمَانَتِي، أَوْ بَخَسْتُ فِيهِ نَفْسِي، أَوْ بَذَلْتُ فِيهِ لِذَاتِي، أَوْ آثَرْتُ فِيهِ شَهْوَتِي أَوْ سَعَيْتُ فِيهِ لِغَيْرِي، أَوْ اسْتَغْوَيْتُ فِيهِ مَنْ تَبَعَنِي، أَوْ غُلِبْتُ فِيهِ بِفَضْلِ حِيلَتِي، إِذْ أَحْلَلْتُ فِيهِ عَلَيْكَ مَوْلَايَ فَلَمْ تَغْلِبْنِي عَلَى فِعْلِي، إِذْ كُنْتَ سُبْحَانَكَ كَارِهًا لِمَعْصِيَتِي، لَكِنْ سَبَقَ عِلْمُكَ فِي اخْتِيَارِي، وَاسْتِعْمَالِ مَرَادِي وَإِيثَارِي فَحَلُمْتَ عَنِّي فَلَمْ تُدْخِلْنِي فِيهِ جَبْرًا، وَلَمْ تَحْمِلْنِي عَلَيْهِ قَهْرًا، وَلَمْ تَظْلِمْنِي شَيْئًا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
يَا صَاحِبِي عِنْدَ شِدَّتِي، يَا مُؤْنِسِي فِي وَحْدَتِي، يَا حَافِظِي فِي نِعْمَتِي يَا وَلِيِّي فِي نِقْمَتِي يَا كَاشِفَ كَرْبَتِي يَا مُسْتَمِعَ دَعْوَتِي، يَا رَاحِمَ عَبْرَتِي، يَا مُقِيلَ عُشْرَتِي بِالتَّحْقِيقِ، يَا رُكْنِي الْوَثِيقَ، يَا جَارِي اللَّصِيقَ يَا مَوْلَايَ الشَّفِيقَ، يَا رَبَّ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ، أَخْرِجْنِي مِنْ حَلِيقِ الْمَضِيقِ إِلَى سَعَةِ الطَّرِيقِ، وَفَرِّجْ مِنْ عِنْدِكَ قَرِيبٌ وَثِيقٌ فَاكْشِفْ عَنِّي كُلَّ شِدَّةٍ وَضِيقٍ، وَاكْفِنِي مَا أُطِيقُ وَمَا لا أُطِيقُ.
اَللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنِّي كُلَّ هَمٍّ وَغَمٍّ، وَأَخْرِجْنِي مِنْ كُلِّ حُزْنٍ وَكَرْبٍ يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، يَا مُنَزِّلَ الْقَطْرِ، وَيَا مُجِيبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ، يَا رَحْمَانَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيمَهُمَا، صَلِّ عَلَى خَيْرِتِكَ مِنْ خَلْقِكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَآلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَفَرِّجْ عَنِّي مَا ضَاقَ بِهِ صَدْرِي، وَعَيِلَ مِنْهُ صَبْرِي، وَقَلَّتْ فِيهِ حِيَلَتِي، وَضَعُفَتْ لَهُ قُوَّتِي، يَا كَاشِفَ كُلِّ ضَرٍّ وَبَلِيَّةٍ، وَيَا عَالِمَ كُلِّ سِرٍّ وَخَفِيَّةٍ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَفْوَضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ، وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.

Allāhumma inna āstaghfiruka min kulli dzanbin qawiya ‘alaihi badanī bi’āfiyatika, aw nālathu qudrati bi fadli ni’matika, aw basaththu ilaīhi yadi bi sābighi rizqika, aw ittakalttu fīhi ‘inda khawfī minka ‘ala anātika, aw wathiqtu bi hilmika, aw ‘awwaltu fīhi ‘ala karami ‘ufwika.

Allāhumma inni astaghfiruka min kulli dzanbin khuntu fīhi amānātī, aw bakhantu fīhi nafsī, aw badzalttu fīhi li dzātī, aw āthartu fīhi syahwatī aw sa’aitu fīhi li ghairī, aw istagwaitu fīhi man taba’anī, aw ghulubtu fīhi bifadhli hīlatī, iż aḥlalltu fīhi ‘alaika mawlāyā falan lam taghlabnī ‘alaa fi’lī, iż kuntu subḥānaka kārihan li ma’ṣiyatī, lakin sabaqa ‘ilmuka fī ikhtiyārī, wa isti’mālu murādī wa īthārī faḥalumt ‘annī falan lam tudkhilnī fīhi jabran, wa lam taḥmilnī ‘alaihi qahran, wa lam taẓliminī syai’an yā arḥamar rāḥimīn

yā ṣāḥibī ‘inda syiddātī, yā mu’nisī fī waḥdatī, yā ḥāfiẓī fī ni’matī yā waliyyī fī niqmatī yā kāsyifa karbatī yā mustami’a da’watī, yā rāḥima ‘ibratī, yā muqīla ‘usyratī bit-taḥqīqi, yā ruknī al-waṣīq, yā jāriy al-laṣīq, yā mawlāyā asy-syāfīq, yā rabba al-bait al-ʿatīq, akhrijnī min ḥalīqi al-maḍīq ilā sa’ati al-ṭarīq, wa farrij min ‘indaika qarīb waṣīq fa-aksyif ‘annī kulli syiddati wa ḍīq, wa akfinī mā uṭīqu wa mā lā uṭīqu.

Allahumma farrij ‘anniy kulli hammin wa ghammin, wa akhrijni min kulli huznin wa karbin, ya farrijal hammi wa ya kasyifal ghammi, ya munazzilal qathri, wa ya mujib da’watil mudththir, ya rahmān ad-dunya wal-ākhirah wa rahimahumā, shalli ‘ala khayri khalqika Muhammadin shallallahu alaihi wa sallam, wa ālihi ath-thayyibīna ath-thāhirīn, wa farrij ‘anni mā dāqa bihi sadrī, wa ‘ayila minhu sabrī, wa qallat fīhi hīlatī, wa dha’ufat lahu quwwatī, ya kasyif kulli dharrin wa balīyah, wa ya ‘ālima kulli sirrin wa khafīyah, ya arhama ar-rāhimīn, afwuḍu amrī ilā Allāhi, inna Allāha basīrun bil-‘ibād, wa mā tawfīqī illā billāh, ‘alayhi tawakkaltu wa huwa rabbu al-‘arshi al-‘azhīm.

Artinya:  Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas segala dosa yang telah kulakukan dengan badanku yang sehat karena karunia-Mu, yang telah terjangkau oleh kekuatanku karena kelebihan nikmat-Mu, yang telah kusodorkan tanganku untuk meraihnya karena limpahan rezeki-Mu, yang telah aku andalkan saat aku takut kepada-Mu karena kelembutan-Mu, atau aku percaya dengan kelapangan hati-Mu, atau aku bersandar pada kemurahan ampunan-Mu.

Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas segala dosa yang telah aku khianati amanat-Mu, yang telah aku aniaya diriku sendiri, yang telah aku korbankan untuk hawa nafsuku, yang telah aku utamakan kesenanganku, yang telah aku perjuangkan untuk orang lain, yang telah aku sesatkan orang-orang yang mengikutiku, atau aku kalah karena kecerdikanku, ketika aku halalkan atas-Mu wahai Tuanku, tetapi Engkau tidak mengalahkanku atas perbuatanku, karena Engkau Maha Suci, Engkau tidak menyukai maksiatku, tetapi ilmu-Mu telah mendahului dalam pilihanku, dan penggunaan kehendakku dan pilihanku, maka Engkau berlapang dada kepadaku dan tidak memasukkan aku ke dalamnya dengan paksaan, dan tidak membebani aku dengannya dengan kekerasan, dan tidak menzalimi aku sedikitpun wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang,
Wahai Temanku saat aku dalam kesulitan, wahai Penemaniku saat aku sendirian, wahai Pelindungku saat aku dalam kenikmatan, wahai Pemeliharaku saat aku dalam kemurkaan, wahai Penyingkap kesusahanku, wahai Pendengar doaku, wahai Penyayang air mataku, wahai Penghapus kesalahanku dengan sebenar-benarnya, wahai Tiangku yang kokoh, wahai Tetanggaku yang dekat, wahai Tuanku yang penyayang, wahai Tuhan Baitul Atiq, keluarkanlah aku dari jurang yang sempit menuju jalan yang luas, dan berikanlah kelapangan dari sisi-Mu yang dekat dan kokoh, singkaplah dariku segala kesulitan dan kesempitan, dan cukupkanlah aku untuk apa yang aku mampu dan yang tidak aku mampu.

Ya Allah, hilangkanlah dariku segala kesedihan dan kegundahan, dan keluarkanlah aku dari segala kesusahan dan kesedihan wahai Penghilang kesedihan dan wahai Penyingkap kegundahan, wahai Penurun hujan, wahai Pengabul doa orang yang terdesak, wahai Yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat dan Yang Maha Penyayang di keduanya, limpahkanlah rahmat kepada sebaik-baik ciptaan-Mu Nabi Muhammad saw, dan keluarga beliau yang suci dan bersih, dan hilangkanlah dariku apa yang membuat dadaku sesak, dan kesabaran ku takluk karenanya, dan akal budiku berkurang karenanya, dan kekuatanku lemah karenanya, Wahai Penyingkap segala bahaya dan bencana, wahai Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan tersembunyi, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, aku serahkan urusanku kepada Allah, sungguh Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya, dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. [Sayyid Alawi Al-Maliki, Madza fi Sya’ban, halaman 64-65]

Demikian adalah beberapa jenis dan macam shalawat yang kesemuanya disusun oleh para ulama, sufi, dan kiai. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News