Perawakannya sedikit kurus. Kulitnya sedikit gelap, tak ada kesan tampang orang kaya. Namun siapa disangka, ternyata dia pemilik rumah makan gratis. Yang memberi makan ribuan orang setiap harinya secara gratis.
Dia adalah, Aditya Prayoga. Wong plembang yang kini memiliki beberapa cabang rumah makan gratis.
Jalan hidup seseorang memang tak ada yang tahu. Siapa sangka, dulu menjalani keseharian dilanda keterbatasan ekonomi, kini ia bisa merasakan keberkahan yang luar biasa.
Sosoknya bahkan bisa dibilang sebagai seorang dermawan, hingga dia sukses membangun Warung Makan Gratis (WMG). Tak hanya itu, dia juga menjadi inspirator beberapa artis untuk membuka rumah makan gratis, Salah satunya Baim Wong.
Aditya Prayoga atau biasa dipanggil Adit lahir di Palembang 7 Juli 1992. Dia tinggal di daerah Bukit Besar. belajar di SD 6 Bukit Besar. Lalu melanjutkan pendidikan di SMPN 17.
Tapi dia cuma duduk sampai kelas I SMP. Ia terpaksa keluar SMP karena ekonomi orangtuanya pas-pasan dan tak mampu membiayainya melanjutkan pendidikan, dan akhirnya dia merantau ke Jakarta.
Di jakarta segala macam profesi digelutinya. Mulai dari tukang parkir, kuli bangunan hingga berjualan, dan akhirnya menikah.

“Saya dulu bekerja sebagai pedagang keliling. Penghasilannya cuma Rp50 ribu, banyak hutang, dan orang tua yang waktu itu lagi sakit,” ujar Aditya Prayoga saat diwawancarai Baim Wong di chanel youtube baim paula.
Orangtua Adit yang saat itu sakit-sakitan, meminta putranya menikah sebelum sang ayah meninggal. “Nikah sama siapa? cewek nggak ada yang mau sama saya. Saya miskin, nggak punya kerjaan, kurus, hitam. Udah cari ke tetangga nggak ada yang mau, ta’aruf juga sering ditolak,” kata Adit dalam tayangan YouTube Cerita Untungs milik Arie Untung.
Adit mengatakan sang ayah tak tahu penyakit yang dideritanya. Adit divonis mandul setelah ia mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai kuli bangunan. Dia tertimpa sak semen hingga terjatuh. Itulah yang membuatnya mandul.
“Punya saya nggak hidup. Kencing juga nggak normal. Pengobatan alternatif, herbal. Disuruh minum obat kuat tapi bukan itu masalahnya. Saya normal, saya nafsu sama perempuan, tapi itu saya nggak hidup. Sama dokter disuruh operasi Rp 7 juta, saya nggak punya uang jadi pulang,” ujar Adit.
Usai menikah, Aditya tidak bisa berhubungan seksual dengan sang istri karena impoten. Dan itu berlangsung beberapa bulan. Hingga akhirnya dia ketemu nenek nenek pemulung.
Ia melihat sang nenek itu berjalan dengan langkah terpincang-pincang. Karena penasaran, dia bertanya mengapa nenek itu berjalan terpincang-pincang.
Nenek itu menjawab dia tengah sakit. Karena penasaran, Adit menyalakan HP-nya untuk melihat kaki si nenek karena hari masih gelap.
Betapa terkejut dia melihat kaki nenek itu berlubang dan ada ulat di dalamnya. Ia pun lalu mengantar nenek itu pulang naik ojek.
Sesampai di kediaman si nenek, Adit bertanya pada tetangga yang tengah menjemur pakaian, nenek itu tinggal dengan siapa. Ternyata nenek itu tinggal seorang diri. Sehingga nenek itu harus bekerja tiap hari untuk mencari makan. Kalau tidak bekerja nenek itu tidak makan.
Dari situ hati Aditya tersentuh. Ia lalu bilang sama sang nenek untuk istirahat di rumah saja. Dia berjanji akan membawakan makan untuk nenek itu setiap hari.
“ Habis itu kan saya pulang dan saya ceritakan dengan istri. Dan istri minta bertemu dan di tempat nenek itu saya bilang sama istri, ‘dik mulai hari ini kamu masak yang banyak dan mulai hari ini kita antarkan makanan ke rumah si nenek biar nenek tidak usah memulung lagi,’” kata Aditya.
Pernah karena tidak punya uang, Adit hanya bisa membawa pisang dan nasi putih ke rumah si nenek. Hati Adit merasa sedih karena hanya bisa menyuapi si nenek dengan nasi putih berlauk pisang. Ia pun berdoa agar rejekinya dibuka Tuhan agar dia bisa membelikan nenek itu makanan lezat.
Selama mengantarkan makanan ke tempat nenek tersebut, satu persatu keajaiban di hidupnya mulai dia rasakan. Saat itu, perlahan dagangan murottalnya laku diborong pembeli.
“Setiap saya kasih makan sampai nenek itu meninggal, jualan saya itu laku. Biasa laku cuma satu dua unit, tiba tiba ada yang memesan sampai 10 hingga 100 unit. Sejak itu saya heran dapat rezeki yang tidak disangka-sangka,” paparnya.
Tak hanya itu keajaiban yang dialami Aidt. Pada saat menikah, dia pernah divonis mandul dan tidak akan bisa punya anak.
“Punya saya nggak hidup. Kencing juga nggak normal. Pernah pengobatan alternatif, herbal. Disuruh minum obat kuat tapi bukan itu masalahnya. Saya normal, saya nafsu sama perempuan tapi itu saya nggak hidup. ” ujar Adit.
“Saking bingungnya, terapi ini sudah itu sudah, akupuntur, bekam tapi nggak bisa juga,” ujarnya.
Karena penghasilannya bertambah setelah membantu si nenek, dia bisa membeli kasur baru. Hingga suatu malam saat tertidur, dia bermimpi berlari di padang pasir.
“Saya lari terus dalam mimpi dan akhirnya terjatuh dari kasur. Di bawah kasur ada mainan mobil-mobilan dari kayu. Kena perut saya, pingin kencing, akhirnya itu saya hidup. Istri saya langsung ajak ke hotel. Dua minggu kemudian istri saya positif hamil, Alhamdulillah,” beber Adit terkekeh kekeh mengenang peristiwa itu.
Setelah keperkasaannya pulih, kini Adit memiliki tiga anak. Anak pertama bernama Daud, 5 tahun. Anak kedua Ja’ronah 3 tahun. Dan yang terakhir Siapa Ibrahim, 9 bulan.
Tapi Aditya tak pernah lupa akan rutinitasnya untuk terus merawat sang nenek tersebut. Hingga suatu hari sang nenek meninggal dunia.
Hari-hari sebelum sang nenek meninggal, nenek memberi pesan tak biasa kepadanya. “Nak, nenek doain mudah-mudahan apa yang belum kamu milikin di dunia ini nanti kamu miliki. Siapapun yang belum pernah berjumpa sama kamu nanti kamu ketemu. Mau dia artis terkenal, pejabat, ulama,” tutur Aditya mengulang ucapan sang nenek.
Hal itu tentu membuat dirinya bingung dengan harapan sang nenek. Selepas nenek meninggal, Aditya semakin merasakan banyak kemudahan dalam usahanya.
Dia merasa rezekinya semakin lancar dan dagangan murottalnya semakin banyak dipesan orang.
“Mungkin ini wasilah dari sang nenek. Sebelum ketemu beliau hidup susah, hutang banyak, kontrakan belum dibayar,” kata Aditya.
Dan dari situlah akhirnya terbesit pikiran Aditya dan istrinya untuk semakin ingin memberi manfaat kepada sesama.
Aditya lantas mendirikan sebuah Rumah Makan Gratis yang berada di Ciangsana, Bogor.
Rumah Makan Gratis sengaja dibangun Aditya untuk membantu masyarakat yang kesusahan dan membutuhkan makanan.
Awalnya dia menggelar karpet di depan kontrakannya, dan hanya menyediakan sekitar 30-an porsi saja. Namun hingga kini, usaha itu semakin berkembang ditambah lagi dengan banyaknya donatur yang mau berbagi melalui dirinya.
Kini, Rumah makan gratis Adit kini tak hanya ada di Ciangsana, berkembang ke Cilangkap, Depok, Pasar Minggu dan Duren Tiga Jakarta. Jadi ada lima lokasi. Dan setiap cabang menyediakan 300 porsi makanan setiap hari yang dikirim dari markas rumah makan gratis yakni di Cilangkap yang menjadi tempat tinggal Adit sekarang.
Gerakan Adit juga menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk membuka rumah makan gratis serupa di berbagai daerah misal di Purwokerto, Bandung, Ciwidey, Gresik, Lumajang, Madiun, Pati, Solo, Singkawang, Bone, Jember, Lombok, Palembang dan Bengkulu. Juga mengerakkan selebriti macam Baim Wong untuk membuka rumah makan gratis.
Lalu dari mana biaya rumah makan gratis? “Dari Allah. Karena kita tidak menggunakan sistem donatur tetap. Ini bukan yayasan yatim piatu yang memiliki donatur tetap. Yang penting sabar, jalani saja, lilahi taala,” ujarnya.
Dia punya konsep SSI atau akronim dari kata Sabar, Syukur dan Ikhlas. Dan buktinya setelah enam tahun rumah makan gratis masih bisa berjalan.
“Niatkan saja apa yang kita lakukan semata-mata untuk membangun istana di surga,” ujarnya tentang rahasia ikhlasnya.
“Bagaimana mungkin diri kita ini takut miskin ketika kita ingin bersedekah sedangkan diri kita diciptakan Allah, Zat yang Maha Kaya” ujarnya. (^)











