Khutbah JumatOKU RAYASumsel

Pentingnya Akhlak di Masyarakat

×

Pentingnya Akhlak di Masyarakat

Sebarkan artikel ini
INTI BUDAYA LITERASI
Persembahan Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNBARA, PENGURUS NU DAN PENYULUH AGAMA ISLAM OKU

Pentingnya Akhlak di Masyarakat
Oleh : Ust.Yasin

Khutbah I

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

Hari ini sangat istimewa karena menjadi sarana kaum muslimin untuk
saling bertemu dan menyatukan komitmen untuk meningkatkan takwallah.

Kita setidaknya diingatkan untuk terus meningkatkan rasa takut kepada
Allah SWT dengan menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang.

Percayalah, dengan terus menambah kualitas takwallah tersebut kita akan
termasuk hamba yang beruntung.

Hadirin yang Berbahagia
Akhlak merupakan hal yang amat fundamental dalam Islam. Misi
utama Rasulullah SAW diutus oleh Allah pun adalah untuk
menyempurnakan akhlak.

Innamâ bu’itstu li utammima makârimal akhlâq.

Akhlak setidaknya terbagi menjadi tiga, yakni akhlak manusia kepada
Allah, akhlak individu manusia kepada masyarakat dan alam, serta akhlak
manusia kepada dirinya sendiri. Kemuliaan orang ditentukan oleh
kemuliaan akhlaknya

Sebuah sistem juga akan berjalan dengan baik bila diisi oleh orangorang yang memiliki akhlak yang baik. Jabatan, status sosial, kekayaan, popularitas tidak menjamin sang pemilik lantas terhormat bila ia, misalnya, gemar merendahkan orang lain, korupsi, menyakiti, berbuat sewenang-wenang, dan lain-lain.

Demikian pula, secanggih apapun sistem yang dibangun, tak ada apa-apanya jika orang-orang di dalamnya hanya pandai
memanipulasi, tak bertanggung jawab, dan sejenisnya.

Jamaah shalat Jumat Rohimakumulloh
اتَّقِهللاَحَي ْثُمَاكُنْتَ، وَأَتْبِعِالسَّيِّئَةَاحلَسَنَةَتَْحُهَا، وَخَالِقِالنَّاسَِبُِلُقٍحَسَنٍ:Baginda Nabi Muhamma

SAW pernah mengingatkan kita semua
Artinya: Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun berada.

Iringilah perbuatan buruk yang sudah dilakukan dengan perbuatan baik
yang dapat menghapusnya. Dan berakhlaklah kepada orang-orang dengan
akhlak yang baik. (HR at-Tirmidzi)

Hadits ini menerangkan tentang kewajiban seseorang untuk
mempedulikan etika sosial. Nabi menyampaikan pesan tersebut setelah
berseru agar manusia bertakwa kepada Allah di mana pun berada: di
masjid, di sawah, di kantor, di trotoar, di pasar, di warung, di lembaga
pendidikan, di forum dakwah, dan lain sebagainya. Ketakwaan yang
istiqomah, tak pandang tempat maupun waktu.

Rasulullah juga berpesan dalam hadits itu untuk tidak membiarkan
keburukan berlarut-larut, dengan menggantinya dengan perbuatan baik.

Para ulama mengaitkan kalimat wa khâliqin nâsa bi khuluqin hasanin
sebagai imbauan tentang pergaulan sosial yang baik, sesuai arti yang
tersurat: berakhlaklah kepada masyarakat dengan akhlak yang baik.

Perintah Nabi tersebut sekaligus menandakan bahwa manusia
sesungguhnya potensial berbuat buruk kepada sesamanya. Karena
memang sejatinya manusia punya dua kecenderungan akhlak, yakni
mahmûdah (terpuji) dan madzmûmah (tercela).

Manusia berlaku tercela ketika nafsu lebih menguasai daripada hati
nuraninya. Egoisme atau kepentingan untuk memuaskan diri sendiri atau
golongan seringkali membuat kita lupa diri kepada hak-hak orang lain,
meremehkan orang lain, memojokkan orang lain, bahkan menzalimi orang
lain. Bagaimana pengejawantahan husnul khuluq (akhlak yang baik)
kepada masyarakat sebagaimana diperintahkan Rasulullah?
Jamaah yang Dirahmati Allah
ُيَُالِفُوا الشَّرْعَوَحُسْنُاْلُْلُقِمَعَالنَّاسِأَالََّتَْمِل النَّاسَعَلَى مُارَدِْ َفْسِ َ، بَلَْتَْمِلْ َفْسَ َعَلَى مُارَدِىِمْمَا َلَْ:Al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad mengatakan
Artinya: Husnul khuluq (berakhlak yang baik) kepada masyarakat
adalah engkau tidak menuntut mereka sesuai kehendakmu, namun
hendaknya engkau menyesuaikan dirimu sesuai kehendak mereka selama
tidak bertentangan dengan syariat.
Inti dari definisi husnul khuluq menurut Imam al-Ghazali ini adalah
penghargaan yang tinggi seseorang kepada kehendak masyarakat selama
kehendak itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Tidak selalu
pemahaman, kebiasaan, dan kebudayaan kita sejalan dengan
pemahaman, kebiasaan, dan kebudayaan orang lain. Di sinilah pentingnya
seseorang ‘mengorbankan’ egoisme diri untuk kehidupan yang harmonis di
masyarakat.
Hadirin, contoh konkret dari praktik dari pesan tersebut adalah cara
berdakwah para ulama terdahulu dalam membumikan Islam di bumi
Nusantara. Wali songo yang mempunyai wawasan fiqih dan tasawuf
secara mendalam tak serta merta melarang tradisi dan kebudayaan yang
berkembang di Nusantara. Tentu mereka sadar ada beberapa aspek yang
tak sesuai dengan syariat, tapi toh dengan bijaksana tetap menghormati

nilai-nilai lokal, mengikutinya, lalu mengisinya dengan nilai-nilai Islam
secara bertahap.
Mereka merupakan ulama-ulama yang menjunjung tinggi prinsip
memanusiakan manusia, menghargai proses, rendah hati, dan bergaul
bersama masyarakat dengan sudut pandang kasih sayang. Padahal,
dengan kapasitas, status sosial, bahkan kekuasaan yang dimiliki, mereka
waktu itu bisa saja memaksa penduduk pribumi untuk memeluk ajaran
Islam dan meninggalkan seluruh tradisi dan adat istiadat lokal. Tapi itu tidak
dilakukan, karena memang menyalahi ketentuan wa khâliqin nâsa bi
khuluqin hasanin.
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah
Senada dengan Imam al-Ghazali, salah seorang ulama Nusantara,
Syekh Nawawi al-Bantani, mengartikan berakhlak kepada masyarakat
ىُوَمُوَاف َقَةُالنَّاسِِفِْكُلِّشَيْئٍمَا عَدَا الْمَعَاصِيْ:sebagai
Artinya: Berakhlak yang baik adalah mengikuti konsensus/tradisi
dalam segala hal selama bukan kemaksiatan. (Syekh Nawawi al-Bantani,
Syarh Sullam al-Taufiq, halaman 61)
Pengertian ini berangkat dari kecerdasan para ulama kita bahwa
masyarakat punya kebudayaan atau tradisi yang berbeda. Universalitas
nilai Islam mereka tunjukkan dengan bukti bahwa Islam mampu membumi
meski dengan wajah yang beragam itu. Tradisi halal bi halal, misalnya,
adalah contoh dari menyatunya nilai-nilai Islam dengan budaya di
masyarakat: nilai persaudaraan dan saling memaafkan dalam Islam
bersatu dengan keguyuban dan tradisi kumpul-kumpul orang Nusantara.
Itulah mengapa halal bi halal tak lazim di Timur Tengah, atau belahan dunia
lain, karena memang terkait dengan kebudayaan khas Nusantara.
Tidak ada yang berubah dengan Islam, terutama yang berkenaan
dengan ibadah mahdhah, hanya saja praktiknya yang bersinggungan

dengan tradisi masyarakat bisa berbeda di tiap daerah. Tentu dengan
catatan tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat.
Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia
Karena sangat menghargai kearifan budaya yang berkembang di
masyarakat, berakhlak yang baik kepada orang lain juga menghindari
gampang memvonis sesat orang lain, menuduh munafik, dan menuduh
syirik, dan lain sebagainya. Kita boleh memegang kuat-kuat prinsip yang
kita yakini, tapi tak seharusnya itu mengoyak kedamaian atau
menimbulkan keributan yang tak perlu di tengah masyarakat. Pesan yang
baik pun harus disalurkan dengan cara atau akhlak yang baik pula.
Semoga kita semua terjaga dari akhlak yang buruk, baik kepada diri
sendiri, kepada masyarakat dan alam, serta lebih-lebih kepada Allah.
Semoga kita termasuk dari umat Nabi Muhammad yang berhasil diperbaiki
akhlaknya, mendapat ridlanya, dan memperoleh syafaatnya. Amin ya
هللاُمِنَّا وَمِنْكُمْتِالَوَتَوُوَإَِّْوُىُوَالسَّمِيْعُالعَلِيْمُ، وَأَا ُوْ ُا َوِْلِىَذَا فَأسْت َغْفِرُهللاَالعَظِيْمَإَِّْوُىُوََبَرَكَهللا ِلِوَلَكُمِْفِاْلقُرْآنِاْلعَظِيْمِ، وَْ َفَعَِنِوَإَِيَّكُمِْبَِافِيْوِمِنْآكَةِوَذِكْرِاحلَْكِيْمِوَت َقَبَّلَ.rabbal alamin
الغَفُوْرُالرَّحِيْم
اَحلَْمْدُهللِعَلىَإِحْسَاِْوِوَالشُّكْرُلَوُعَلىَت َوْفِيْقِوِوَاِمْتِنَاِْوِ. وَأَشْهَدُأَنْالَاِلَوَإِالَّهللاُوَهللاُKhutbah II
إِنَّهللاَوَمَآلئِكَتَوُكُصَلُّوْنَعَلىَالنَِّبِآي اَك ُّهَا الَّذِكْنَآمَن ُوْا صَلُّوْا عَلَيْوِوَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّصَلِّوَاْ ْت َهُوْا عَمَّاْ َهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّهللاَأَمَرَكُمِْبَِمْرٍبَدَأَفِيْوِبِن َفْسِوِوَثَ َنَِبَِآل ئِكَتِوِبِقُدْسِوِوَاَا َتَعاََلَسَيِّدَِنَُمَُمَّدٍوِعَلَى اَلِوِوَأَصْحَابِوِوَسَلِّمْتَسْلِيْمًاكِثي ْارًأَمَّا ب َعْدُفَياَاَك ُّهَا النَّاسُاِت َّقُوا هللاَفِيْمَا أَمَرَوَحْدَهُالَشَرِكْ َلَوُوَأَشْهَدُأنَّسَيِّدََنَُمَُمَّدًا عَبْدُهُوَرَسُوْلُوُالدَّاعِى إَلَرِضْوَاِْوِ. اللهُمَّصَلِّعَل

خْذُ ْمَنْخَذَ َاْملُسْلِمِْيَْوَدَمِّرْأَعْدَاءَالدِّكْنِوَاعْلِكَلِمَاتِ َإَِلَك َوْمَالدِّكْنِ. اللهُمَّادْرَالدِّكْنَاْإلِسْالَمَوَاْملُسْلِمِْيَْوَأَذِ َّالشِّرْكَوَاْملُشْرِكِْيَْوَاْْصُرْعِبَادَكَاْملُوَحِّدِكَّةَوَاْْصُرْمَنَْْصَمُؤْمِنِْيَْوَاْملُؤْمِنَاتِوَاْملُسْلِمِْيَْوَاْملُسْلِمَاتِاَالَحْيآءُمِن ْهُمْوَاْالَمْوَاتِاللهُمَّأَعِزَّاَللهُمَّاغْفِرْلِلْأَرْحَمَالرَّاْحِِْيَْوَالتَّابِعِْيَْوََتَبِعِي التَّابِعِْيَْهلَُمَْبِِحْسَانٍاِلَىي َوْمِالدِّكْنِوَارْضَعَنَّا مَعَهُمْبِرَْحَْتِ ََيَالرَّاشِدِكْنَأَِبِبَكْرٍوَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْبَقِيَّةِالصَّحَابَةِاْملُقَرَّبِْيَْوَارْضَاللّهُمَّعَنِاْْلُلَفَاءِمَآلئِكَةِعَلَى أَكْب َرْلعَظِيْمَكَذْكُرْكُمْوَاشْكُرُوْهُعَلىَِْعَمِوِكَزِدْكُمْوَلَذِكْرُهللاِوَاْلب َغْي كَعِظُكُمْلَعَلَّكُمْتَذَكَّرُوْنَوَاذْكُرُوا هللاَاْنْكَرِعِبَادَهللاِ! إِنَّهللاََيَْمُرَُنََبِْلعَدْ ِوَاْإلِحْسَانِوَإِكْتآءِذِي اْلقُرِْبَوَك َن ْهَى عَنِاْلفَحْشآءِوَاْملُلَنَا وَت َرْْحَْنَا لَنَكُوَْْنَّمِنَاْْلَاسِرِكْنَ. حَسَنَةًوَاِنَا عَذَابَالنَّارِ. رَب َّنَا ظَلَمْنَا اَْ ْفُسَنَا وَاإنَْلَْت َغْفِرْاْخآخِرَةِخآصَّةًوَسَائِرِاْلب ُلْدَانِاْملُسْلِمِْيَْعآمَّةًَيَرَبَّاْلعَالَمِْيَْ. رَب َّنَا آتِناَِفِالدُّْ ْيَا حَسَنَةًوَِفِنْب َلَدَِنَاِْْدُوِْيْسِيَّا اْلبَالَءَوَاْلوََبَءَوَالزَّالَزِ َوَاْملِحَنَوَسُوْءَاْلفِت ْنَةِوَاْملِحَنَمَا ظَهَرَمِن ْهَا وَمَا بَطَنَعَفَعْعَنَ.

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News