Perhatian Agama Terhadap Oang Sakit
Persembahan Ustadz Yasin
IPARI Kemenag OKU
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bâhiliy, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى مَلَكِهِ أَنِ اكْتُبْ لِعَبْدِي أَجْرَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي الصِّحَّةِ وَالرَّخَاءِ إِذْ شَغَلْتُهُ، فَيَكْتُبُ لَهُ
Artinya: Jika ada hamba beriman yang sakit, Allah memberikan wahyu kepada malaikat-Nya: Tulislah untuk hamba-Ku pahala sebagaimana pahala atas amal yang ia kerjakan saat sehat sejahtera ketika Aku membuat dia sibuk.’Lalu malaikat kemudian mencatatnya. (At-Targhîb fî Fadlâilil A’mâl, halaman: 397).
Di hadits lain dikisahkan, ketika ada orang mukmin sakit, sebelum menderita atas sakit yang datang menimpa, Allah sudah menyuruh empat malaikat terlebih dahulu mendatangi hamba yang akan sakit tersebut.
Allah menugaskan satu malaikat untuk menyedot kekuatan tubuh seseorang sehingga ia berubah menjadi lemah.
Malaikat kedua diperintah untuk menyedot perasaan lezat di mulut seseorang sehingga ia tiba-tiba menjadi tidak enak saat makan apa pun.
Malaikat ketiga ditugaskan untuk mengambil cahaya wajah seseorang tersebut. Maka orang yang dicabut nur wajahnya, mukanya menjadi pucat pasi.
Dan yang keempat, Allah mengutus malaikat yang satunya untuk mengambil dosa-dosa orang yang sakit sehingga ia tidak lagi memiliki dosa.
Alih-alih Ketika mendengar ada teman, kerabat atau tetangga yang sedang sakit, kita tentunya akan merasa prihatin dan dianjurkan untuk menjenguknya.
Selain bernilai pahala, menjenguk orang yang sedang sakit dapat membantu menghibur dan melapangkan pikirannya.
Orang yang sedang sakit, apalagi penyakit yang didera membuatnya harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama, akan membuat seseorang merasa rapuh dan kesepian.
Namun ternyata dalam kondisi sakit dan sepi itulah, Allah hadir bersama mereka. Dilansir dari NU Online, Allah swt memang terbiasa hadir bersama orang-orang yang sepi baik karena dizalimi atau sepi karena sakit.
Pada mereka Allah hadir.
Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam Kitab Irsyadul Ibad mengutip hadits qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut.
أخرج مسلم أن الله تعالى يقول يوم القيامة: يا ابن آدم مرضت فلم تعدني. قال: يا رب كيف أدعوك وأنت رب العالمين. قال: أما علمت أن عبدي فلانا مرض فلم تعدني. أما علمت أنك لو عدته لوجدتني عنده أي لوجدت عنده ثوبي الذي لا نهاية لعظمه.
Artinya: Pada hari Kiamat Allah menegur seseorang, “Wahai anak Adam. Saat Aku sakit, kenapa kau tidak menjenguk-Ku?” Orang itu menjawab, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mendoakan-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan sekalian alam?” Allah menjawab: Tidakkah kau tahu bahwa hamba-Ku si fulan itu sakit. Namun kau tidak menjenguk-Ku.
Tahukah kau, kalau kau menjenguknya, kau akan mendapati Aku di sisinya. Maksudnya, Kau akan mendapatkan ganjaran-Ku yang tak bertepi saking banyaknya (HR Muslim).
Hadis qudsi ini menganjurkan kepada siapa saja untuk meluangkan waktu demi menjenguk kerabat atau sahabat yang sedang sakit.
Di dalam hadis qudsi di atas, Allah menjanjikan pahala besar untuk mereka yang memberikan waktunya demi menghibur orang sakit.
Lantas kapan waktu yang tepat dalam menjenguk orang sakit? Perlu diketahui dulu, bahwa hukum menjenguk orang sakit adalah sunnah, berdasarkan pada riwayat Al-Barra Ibnu Azib yang menyatakan bahwa Rasulullah saw memerintahkan untuk mengiringi jenazah dan menjenguk orang sakit.
Hal ini sebagaimana dikemukakan Abu Ishaq As-Syirazi dalam Kitab Al-Muhadzdzab.
وَيُسْتَحَبُّ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ لِمَا رَوَى البَرَّاءُ بْنُ عَازِبٍ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرْضَى
Artinya: Dan disunnahkan menjenguk orang sakit karena didasarkan pada hadits riwayat Al-Bara` bin ‘Azib ia berkata, Rasulullah saw telah memerintahkan kami untuk mengiringi jenazah dan menjenguk orang sakit (Lihat Abu Ishaq As-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, Beirut: Darul Fikr, juz I, halaman 126).
Sedang mengenai waktu yang menjenguk orang sakit, dilansir dari NU Online, dimakruhkan pada tengah hari. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.
Sedangkan waktu yang dianjurkan untuk menjenguk orang sakit adalah pada pagi dan sore hari.
Alasannya adalah karena pada waktu itu para malaikat sedang memperbanyak membaca shalawat. Hal itu berdasarkan penjelasan Ibnu Muflih Al-Hanbali dalam Kitab Al-Adabus Syar’iyyah.
قَالَ بَعْضُ الْأَصْحَابِ وَتُكْرَهُ وَسَطَ النَّهَارِ نَصَّ عَلَيْهِ وَقَالَ الْأَثْرَمُ : قِيلَ : لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ فُلَانٌ مَرِيضٌ وَكَانَ عِنْدَ ارْتِفَاعِ النَّهَارِ فِي الصَّيْفِ .فَقَالَ : لَيْسَ هَذَا وَقْتُ عِيَادَةٍ قَالَ الْقَاضِي : وَظَاهِرُ هَذَا كَرَاهِيَةُ الْعِيَادَةِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ انْتَهَى كَلَامُ الْأَصْحَابِ ، وَالْأَوْلَى أَنْ يُقَالَ : تُسْتَحَبُّ الْعِيَادَةُ بُكْرَةً وَعَشِيَّةً لِمَا فِيهِ مِنْ تَكْثِيرِ صَلَاةِ الْمَلَائِكَةِ
Artinya: Sebagian ulama dari kalangan Madzhab Hanbali berkata, bahwa makruh menjenguk orang sakit pada tengah hari. Demikian sebagaimana dikemukakan Imam Ahmad bin Hanbal. Al-Atsram berkata, dikatakan kepada Abi Abdillah, si fulan sakit, sedangkan ia pada saat mengetahui berita tersebut ketika tengah hari.
Lantas Abi Abdullah berkata, “Ini bukan waktu untuk menjenguk orang sakit.” Qadhi Abu Ya’la pun berkata, bahwa secara zhahir pandangan ini mengarah pada kemakruhan menjenguk orang sakit pada waktu itu (tengah hari).
Demikian pendapat para ulama dari kalangan Madzhab Hanbali. Pendapat yang lebih utama untuk dikemukakan adalah disunnahkan menjenguk orang sakit pada waktu pagi dan petang hari karena pada waktu tersebut para malaikat sedang memperbanyak shalawat (Lihat Ibnu Muflih, Al-Adab As-Syar’iyyah, Beirut, Muassatur Risalah: 1999 M/1419 H, juz II, halaman 189-199).
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka kita sepatutnya menjenguk kerabat, teman, ataupun tetangga yang sakit.
Sebab, menjenguknya setidaknya bisa mengurangi beban sakit yang diderita dan menyenangkan hati mereka. Meski begitu, sebaiknya kita juga memperhatikan waktu yang tepat dan dianjurkan untuk menjenguknya. (*)




