Khazanah IslamOKU RAYA

Selektif Dalam Bermedsos

×

Selektif Dalam Bermedsos

Sebarkan artikel ini
INTI BUDAYA LITERASI
Persembahan Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNBARA, PENGURUS NU DAN PENYULUH AGAMA ISLAM OKU

Selektif Dalam Bermedsos
Persembahan Ust.Yasin

Media sosial atau medsos mempermudah banyak kehidupan manusia. Dari komunikasi dengan keluarga atau teman di berbagai belahan dunia, hingga mempermudah menjalankan bisnis.

Namun, penggunaan media sosial secara berlebihan bisa menyebabkan kecanduan.

“Oleh karena itu, keterkaitan dan kecanduan pada media sosial perlu di kurangi secara perlahan sebab berlebihan dalam menggunakan media sosial akan berdampak buruk,”.

Akhir-akhir ini, hampir semua masyarakat Indonesia sudah mengenal dan menggunakan media sosial sebagai aktivitas dan kebutuhan harian.

Media sosial menjadi wadah untuk berbagai agenda kegiatan dan alat yang sering digunakan oleh masyarakat, tak terkecuali anak muda, untuk berinteraksi antar sesama.

Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengakses media sosial untuk mencari hiburan dan informasi yang dibutuhkan.

Bahkan, menjadikan media sosial sebagai ladang untuk mencari pekerjaan dan sumber penghasilan yang menjanjikan, atau bahkan dalam mendapatkan pendapatan hidup, serta bisa menjadi wadah kebermanfaatan.

Namun, dalam menggunakan media sosial, perlu memperhatikan beberapa hal yang sesuai dengan ajaran syariat Islam.

Karena banyak juga hal negatif yang ditimbulkan dengan adanya media sosial.

Dalam hal ini, tentu agama Islam mengatur dan memperhatikan dalam berbagai segi, baik dalam penggunaannya, dalam segi adab, maupun etika.

Islam adalah agama yang menuntun umatnya untuk selalu mengutamakan berbuat baik dalam setiap sisi kehidupan.

Termasuk memiliki batasan-batasan syar’i dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam menjaga interaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung (daring), semisal dalam menggunakan media sosial.

Hal ini agar tercipta kondisi yang lebih nyaman, bijak, dan tetap memperhatikan etika yang bermoral dalam setiap aktivitasnya.

Adapun beberapa langkah dalam menghindari dampak negatif dari penggunaan media sosial, yang bisa kita lakukan dan upayakan, dalam menggunakan dan mengakses media sosial agar tidak menyalahi aturan-aturan syar’i, antara lain:

Langkah menghindari dampak negatif dari pengunaan media sosial

Cara mengurangi dampak negatif media sosial, antara lain:

1) Membatasi waktu penggunaan media sosial;
2) Menghindari bermain menggunakan media sosial untuk sesuatu yang tidak penting;
3) Menghindari menggunakan media sosial saat jam-jam tertentu;
4) Mematikan notifikasi media sosial;
5) Menghabiskan waktu luang dengan keluarga; dan
6) Fokus dengan pekerjaan.

Langkah dan cara menggunakan media sosial dalam pandangan Islam.

Berikut ini adalah adab-adab dalam menggunakan media sosial sesuai ajaran Islam:

1) Mencari informasi yang bermanfaat;
2) Dalam menggunakan media sosial, seyogyanya kita memanfaatkanya dengan bijak dan positif.

Salah satunya dengan menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mencari informasi dan pengetahuan yang bermanfaat.

Langkah Sederhana Mengatasi pengaruh media sosial

Beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam mengatasi kecanduan media sosial, antara lain:

1) Memulai hobi baru yang tidak berkaitan dengan media sosial;
2) Membuat jadwal atau membatasi waktu untuk bermain media sosial;
3) Memperbanyak aktivitas di luar rumah; dan
4) Meletakkan gadget yang jauh dari genggaman atau pandangan.

Etika yang sebaiknya perlu diterapkan dalam bermedia sosial.

Beberapa etika yang perlu diterapkan dalam bermedia sosial adalah:

1) Pergunakan bahasa yang baik;
2) Hindari penyebaran SARA, aksi kekerasan, dan lainnya;
3) Kroscek kebenaran berita;
4) Menghargai hasil karya orang lain;
5) Jangan terlalu mengumbar informasi pribadi;
6) Bijak dalam menggunakan media sosial;
7) Menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi;
8) Selektif dalam menyebarkan informasi;
9) Tidak menyebarkan rahasia pribadi ke ranah publik;
10) Bijak dalam mengatur waktu online; dan
11) Hati-hati dalam menyebarkan atau menyampaikan data pribadi.

Sedangkan, dampak negatif lainnya dari menggunakan atau pelaku media sosial adalah menjauhkan orang-orang yang sudah dekat dan sebaliknya.

Interaksi secara tatap muka cenderung menurun, dan membuat orang-orang menjadi kecanduan terhadap internet.

Selain itu, juga dapat menimbulkan konflik. Masalah privasi rentan terhadap pengaruh buruk orang lain.

Maka, hal yang perlu dihindari saat menggunakan media sosial, yakni hindari dalam lingkungan toxic.

Selain itu, hindari dalam perilaku atau keterlibatan menyebarkan info atau berita hoax serta informasi bohong, meskipun dengan tujuan yang baik, seperti informasi mengenai kematian orang yang masih hidup dan lain sebagainya.

Hindari pula dan berhati-hati dalam area yang terdapat penyebaran materi pornografi dan kemaksiatan, meskipun hanya sekedar gambar.

Info perselingkuhan hal tersebut dapat mengotori hati. Hindari segala macam hal yang terlarang secara syar’i dan hindari segala konten yang benar, namun tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

Islam sangat mengatur umatnya dalam bermuamalah dan berinteraksi, baik secara langsung maupun secara online.

Islam pun mengatur etika dan adab dalam kita berkomunikasi secara online di dalam media sosial.

Jika kita tidak menjaga adab dalam hubungan sosial, pasti akan dibenci orang.

Demikian pula, dalam media sosial, tulisan yang menyakiti orang pasti akan membekas pada hati mereka.

Bedanya, jika dengan lisan, akan terhapus; sedangkan dengan tulisan, kata-kata itu akan selamanya dibaca orang dan terekam dalam bukti jejak media.

Langkah-langkah praktis yang dapat kita lakukan dan upayakan dalam menggunakan dan mengakses media sosial agar tidak menyalahi aturan-aturan syar’i

Adapun beberapa langkah praktis yang dapat kita lakukan dan upayakan dalam menggunakan dan mengakses media sosial agar tidak menyalahi aturan-aturan syar’i, antara lain :

Mencari informasi yang bermanfaat baik secara pribadi maupun sosial.

Dalam menggunakan media sosial, seyogyanya kita memanfaatkannya dengan bijak dan positif.

Salah satunya dengan menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mencari informasi dan pengetahuan yang bermanfaat.

Minimalnya menggunakan dan merujuk pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا, سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Menjaga lisan atau kata-kata dalam berucap atau ketika menulis
Sebagai seorang muslim.

Kita diperintahkan untuk menjaga lisan dan ucapan kita, baik dalam hal muamalah harian maupun dalam kegiatan bulanan dan tahunan terkait organisasi-organisasi, termasuk dalam bermedia sosial.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang berisi nasihat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عليك بطول الصمت فإنه مطردة الشيطان وعون لك علي أمر دينك
“Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu.” (HR. Ahmad).

Budayakanlah tabayyun sebelum melakukan pembagian ulang info yang bersumber dari medsos
Sebagai seorang muslim, kita harus bersikap tabayyun terlebih dahulu dalam menerima informasi atau berita.

Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalisasi kesalahan informasi atau berita yang tidak benar dan tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Seperti dalam firman Allah pada surah Al-Hujurat ayat 6,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Menjadikan media sosial sebagai sarana menyebar kebaikan bukan sebagi sumber utama rujukan permasalahan.

Kebaikan dapat kita sampaikan dengan banyak cara dan berbagai media sarana.

Salah satunya adalah dengan menyebarkan kebaikan melalui media sosial.

Salah satu cara berdakwah kaum muslimin akhir-akhir ini pun tidak terlepas dari media sosial.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadis dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Artinya “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Meminta perlindungan dengan berdoa sebelum menulis atau saat mau komentar pada suatu info

Meminta perlindungan kepada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang banyak beredar dalam dunia maya, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan.

Karna biasanya pengguna sudah tersusupi pikiran jahat dan terpelanting jauh dari akar-akar tawakal apalagi taqwa
Semoga Allah SWT selalu menjaga dan mencurahkan hidayah serta keistikamahan kita.

Mengaruniakan kepada kita kekuatan, keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat.

Berdoa dan senantiasa meminta perlindungan kepada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan perbuatan keji.

Yakni fitnah-fitnah informasi yang memperburuk dan menimbulkan penyakit hati yang terumbar dalam berbagai segi kehidupan, termasuk sel-sel media sosial.

Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri, ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi SAW.

“Kita tidak bisa menyalahkan media sosial atau menerapkan fatwa haram karena zamannya telah berubah dan kita diciptakan sebagai pribadi yang merdeka maka harus ada persiapan melawan segala sesuatu yang buruk.

Jangan mau dijajah oleh media sosial,” semoga bermanfaat. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News