Sepak terjang Satgas Karhutlah Tempur Lawan Kobaran Api
Minim Fasilitas Pemadam, Jarang Bertemu Keluarga
Titik api baru lahan terbakar terus bermunculan. Hampir setiap jam, sirine armada pemadam terdengar lantang melintas di jalan raya. Sejak September, hampir setiap jam laporan kebakaran lahan di OKU mampir ke BPBD OKU.
————–
Mustofa – OKU SATU
————–
Ribuan hektar lahan milik warga di Kabupaten OKU sudah terbakar. Tidak hanya semak belukar yang dilahap, tapi juga lahan produktif milik warga. Seperti kebun karet, kebun sayuran, sawit dan masih banyak lagi. Rata-rata kebun yang terbakar itu, merupakan sumber pendapatan warga.
Dampak kebakaran yang mulai marak sejak awal September 2023 itu, kabut asap bermunculan di pagi hari.
Jarak pandangnya hanya 2 meter saja.
Namun beruntung, kabut asap tidak bertahan lama. Tapi udara jadi berpolusi tidak bisa dihindarkan.
Tingginya kasus kebakaran lahan di Kabupaten OKU, membuat petugas pemadam BPBD OKU maupun Dinas Pemadam Kebakaran kelabakan.
BACA JUGA Tanah Pondasi Lenyap, Warga Khawatir Jembatan Beton Ambruk
BACA JUGA Ratusan Formasi PPPK Nol Pendaftar
“Tiap jam pasti ada laporan kebakaran. Terkadang baru saja selesai pemadaman, sudah ada titik kebakaran baru yang harus dipadamkan, ” ujar Dadi Sutiadi.
Mirisnya lagi, titik kebakaran baru yang masuk dalam laporan, lokasinya cukup jauh dari lokasi pemadaman. Namun, kebakaran tersebut harus mereka jabani.
“Makan waktu. Apalagi armada pemadam BPBD cuma satu unit yang dibackup armada damkar, ” jelasnya.
Tugas Satgas Karhutlah, ungkap Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD OKU sangat berat. Karena kebakaran yang harus dipadamkan tidak mengenal waktu. Belum lagi area kebakaran tidak bisa diakses kendaraan pemadam. Kondisi ini menambah kesulitan pemadam.
Apalagi selang air untuk memadamkan api hanya sepanjang 100 meter. Ditambah lagi sumber air bersih untuk memadamkan sangat sulit didapat.
BACA JUGA Dua Produk Pangan Asal OKU Terima Sertifikat Makanan Aman Konsumsi, Ini Produknya
BACA JUGA Kapolres Mendadak Kumpulan Ratusan Personil di Mapolres, Ada Apa
“Tangki panggul tidak ada. Kalau lagi ada warga sekitar, masih bisa pinjam. Tapi kalau malam di tengah kebun, mau pinjam kemana, ” jelasnya.
Di lokasi kebakaran, petugas bergelut dengan panasnya kobaran api yang terus membesar, serta sesaknya nafas karena asap yang terus mengepung tanpa jeda. “Alhamdulillah sampai saat ini petugas pemadam tidak ada yang sakit. Tapi pinggang pegel, dompet ikut jebol, ” seloroh mantan Lurah Sukaraya ini.
Selama kasus kebakaran lahan berkecamuk, paling sedikit tiga lahan yang terbakar, namun paling banyak 15 titik.
“Tahun ini sepertinya paling parah, karena lokasi kebakaran dominan di tengah kota, ” jelasnya.
BACA JUGA Pimpinan Ponpes di OKI Disikat Densus 88, Diduga Terlibat Jaringan Teroris
BACA JUGA Oknum LSM di OKUT Dibekuk Petugas, Diduga Peras Kepala Sekolah
Sepanjang kebakaran lahan, ia menyebut sangat jarang bertemu dengan anak dan istrinya. Karena pulang ke rumah paling cepat pukul 22.00 wib.
“Itu kalau tidak ada kabar kebakaran lagi. Kalau ada kabar kebakaran, baru pulang langsung pergi lagi ke lokasi, ” tuturnya.
Menurutnya kebakaran terparah terjadi di TPA Simpang Kandis Kecamatan Lubuk Batang. Karena untuk pemadaman, ia bersama tim lainnya di lokasi itu hingga empat hari.
“Empat hari di sana. Karena kebakaran sulit dipadamkan, ” tandasnya seraya buru-buru hendak pemadaman kebakaran di Kecamatan Lubuk Batang. (*)












