Tiga Ilmu Wajib Dipelajari Tanpa Batas Usia
Persembahan Ust. Yasin
Pemahaman dan pemandangan yang kaprah di masyarakat, ilmu dibedakan menjadi ilmu agama dan ilmu umum.
Pemahaman ini kemudian lebih dikuatkan dengan adanya pembagian sekolah yang disebut dengan sekolah umum dan sekolah agama atau yang lebih dikenal dengan madrasah.
Sesungguhnya para ulama tidak membagi ilmu dengan pembagian yang demikian. Bila membaca berbagai literatur akan didapati bahwa yang dibedakan oleh para ulama bukanlah jenis ilmunya, namun hukum mempelajarinya.
Dalam kitab Ihya Ulûmid Dîn misalnya Imam Al-Ghazali membedakan ilmu menjadi ilmu yang fardlu ‘ain hukumnya untuk dipelajari dan ilmu yang fardlu kifayah hukumnya untuk dipelajari.
Ilmu yang fardlu kifayah hukum mempelajarinya berarti tidak setiap orang Islam wajib mempelajari ilmu tersebut.
Bila ada satu di antara mereka yang telah mempelajarinya maka itu sudah cukup menggugurkan orang Islam lain untuk mempelajarinya.
Termasuk dalam kategori ilmu ini adalah ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kedokteran, ilmu biologi dan lain sebagainya. Bila ada satu orang Islam yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban orang Islam lainnya untuk memepelajarinya.
Sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini tidak bisa tidak harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu Muslim.
Tak ada celah bagi seorang Muslim untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini.
Lalu ilmu apa saja yang hukum mempelajarinya termasuk dalam kategori fardlu ‘ain?
Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari di dalam kitab Mandhûmatu Hidâyatil Adzkiyâ’ ilâ Tharîqil Auliyâ’, di mana kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Awliyâ’, bahwa ada 3 (tiga) ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang Muslim dengan kewajiban fardlu ‘ain.
Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadah menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidah, dan ilmu yang menjadikan hati bersih.
Dalam kitab itu Al-Malibari menuturkan:
وتعلمن علما يصحح طاعــة وعقيدة ومزكي القلب اصقلا هذا الثلاثة فرض عين فاعرفن واعمل بها تحصل نجاة واعتلا
Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan mengesahkan aqidah serta mensucikan hati Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan Inilah tiga ilmu yang setiap orang Islam wajib mempelajarinya.
Pertama, ilmu yang menjadikan sahnya ibadah kepada Allah adalah ilmu fiqih yang membahas tentang bagaimana semestinya seorang Muslim beribadah kepada Allah.
Sebagai contoh, setiap Muslim wajib mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya shalat yang benar dan baik. Juga ia wajib mempelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan keabsahan shalat, seperti caranya berwudlu, cara mensucikan berbagai macam najis, bertayamum, beristinja dan lain sebagainya.
Seorang Muslim juga wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya.
Termasuk juga dalam kategori ini adalah ilmu muamalat, ilmu yang mengatur bagaimana semestinya seseorang melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti jual beli, sewa menyewa, penitipan, dan sebagainya.
Ilmu-ilmu diatas ini fardlu ain hukumnya untuk dipelajari mengingat amalan seseorang yang tidak didasari dengan ilmu maka amalan yang dilakukannya itu menjadi batal, tak diterima.
Sebagaimana dituturkan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad:
وكل من بغير علم يعمل أعماله مردودة لا تقبل
Setiap orang yang beramal tanpa ilmu Maka amalnya tertolak, tak diterima
Kedua, ilmu yang menjadikan aqidah atau kepercayaan seseorang menjadi benar sesuai dengan aqidah yang dianut oleh para ulama Ahlussunah wal Jama’ah.
Dengan mempelajari dan memahami ilmu ini maka seseorang akan terjaga dari aqidah-aqidah yang rusak dan tidak benar seperti aqidah Mu’tazilah, Jabariyah, dan Mujassimiyah.
Orang yang tidak mempelajari ilmu ini maka dikhawatirkan ia akan salah dalam memahami dan meyakini perihal bagaimana Allah dan berbagai permasalahan keimanan lainnya.
Ketiga, ilmu yang menjadikan hati bersih dari berbagai macam akhlak yang jelek seperti riya, sombong, dengki, hasud dan berbagai macam penyakit hati lainnya.
Ilmu ini wajib pula dipelajari oleh setiap orang Muslim mengingat perilaku orang tidak hanya apa yang dilakukan oleh anggota badan secara lahir namun juga perilaku-perilaku hati secara batin.
Sayid Bakri Al-Makki memberikan penjelasan masalah ini di dalam kitabnya Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’.
Beliau menuturkan bahwa tak ada kelonggaran bagi seorang pun untuk tidak mengetahui ketiga ilmu tersebut. Inilah ilmu syariat yang bermanfaat.
Tak cukup dengan memepelajari dan mengetahuinya saja. Orang yang telah mempelajarinya juga mesti mengamalkannya. Karena siapapun yang telah mengetahui ketiga ilmu ini tidak akan bisa selamat kecuali dengan mengamalkannya.
Ya, untuk mendapatkan keselamatan di akherat kelak serta tingginya derajat di dunia dan akherat tak bisa lepas dari tiga hal: keyakinan atau aqidah yang benar, ibadah yang benar, dan hati yang bersih.
Tiga Hal ini semestinya menjadi perhatian bagi setiap orang Muslim.
Lebih-lebih semestinya menjadi perhatian bagi para orang tua untuk lebih mengutamakan ketiga ilmu tersebut bagi para anaknya.
Sudah semestinya ketika anak-anak masih belum akil baligh setiap orang tua lebih mementingkan ketiga ilmu tersebut dibanding ilmu-ilmu lainnya.
Ini dikarenakan ketika sang anak sudah menginjak masa akil baligh, yang artinya dia telah mukallaf dan menanggung setiap akibat perbuatannya, maka ia sudah harus melakukan berbagai macam tuntutan syariat yang akan memberinya pahala bila melakukannya dan memberinya dosa bila meninggalkannya.
Untuk melakukan tuntutan syariat ini mau tidak mau ia harus telah memiliki dan memahami ilmu-ilmunya yang semestinya telah dipelajari sejak dari kecil.
Bila sampai dengan akil baligh sang anak belum tahu bagaimana semestinya beraqidah dan beribadah kepada Allah sehingga ia melakukan kesalahan, maka orang tua akan ikut menanggung akibat dari kesalahan tersebut, karena keteledorannya yang tak memberikan ilmu agama yang cukup saat sang anak masih belum baligh.
Tidak salah memberikan berbagai macam ilmu ketika anak masih duduk di bangku sekolah dasar, sebelum anak akil baligh.
Tetapi adalah kerugian yang besar bila orang tua tak memperhatikan dan tak memberikan ilmu yang cukup bagi anak untuk kelak ketika ia telah akil baligh berhubungan dengan Tuhan dan sesama makhluk dengan baik dan benar.
Karnaya Islam sebagai agama yang sempurna mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, karena ilmu dibutuhkan oleh manusia sebagai bekal kehidupannya di dunia dan di akhirat.
Perintah menuntut ilmu bahkan menjadi wahyu pertama yang diterima Rasullullah Muhammad SAW dari Allah SWT dalam QS. al-‘Alaq ayat 1-5 yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3). Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (4). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).”
Adapun beberapa keutamaan menuntut ilmu yang sangat memberikan manfaat bagi seseorang yaitu merupakan amal yang tidak akan terputus dan akan terus mengalir, meskipun sudah wafat sesuai dengan HR Bukhari dan Muslim, memudahkan jalannya menuju surga, dapat menjadi saksi atas kebenaran, orang yang berilmu akan selalu takut kepada Allah SWT, para malaikat membentangkan sayap untuk para penuntut ilmu, dan tentunya memeroleh limpahan pahala dari Allah SWT.
Di dalam Al Quran sendiri telah banyak cabang kelimuan yang ditunjukkan kepada manusia baik secara eksplisit maupun implisit.
Seperti kedokteran, astronomi, matematika, hubungan antar manusia, geografi, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ilmu dunia dan akhirat.
Salah satu tujuan Allah SWT menunjukkan kalam-Nya adalah agar manusia dapat lebih bertafakkur dan bertadabbur akan kebesaran-Nya dan tidak ada yang mampu menandingi ayat-ayat Allah SWT.
Artinya dak batasan usia buat kita unutk belajar meskipun kita sebagai guru ataupun maha guru sekalipun, karna bertadabur akan kebesaranyalah yang menuntun kita menjadi selalu sadar akan segala keterbatasan.
Menurut penulis, larangan bagi semua Muslim laki maupun muslim perempuan sekalipun dia guru atau siapa pun untuk berhenti belajar mencerminkan prinsip-prinsip berikut:
Pertama, Pendidikan sebagai Proses Berkelanjutan: Islam mengajarkan bahwa pendidikan adalah proses berkelanjutan sepanjang hayat.
Tidak ada batasan usia atau tingkat pengetahuan di mana seseorang diizinkan untuk berhenti belajar.
Guru atau apapun yang sifatnya sebagai pengajar yang berhenti belajar dapat menghambat kemampuannya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas kepada murid-muridnya.
Kedua, Peran Guru atau apapun yang sifatnya sebagai pengajar sebagai Pemberi Teladan agar meringankan perintah atau keinginan terhadap harapan pada peserta didiknya: Guru memiliki peran penting dalam membentuk pemikiran dan perilaku murid-muridnya.
Jika seorang guru terus belajar dan meningkatkan pengetahuannya, ia dapat menjadi teladan yang kuat bagi murid-muridnya dalam semangat pembelajaran yang berkelanjutan.
Ketiga: Pengembangan Pengetahuan dan Kualifikasi: Berbagai bidang pengetahuan terus berkembang, dan kita harus tetap bisa perubahan terkini dengan berbagai macam perkembangan-perkembangan , agar bisa memberikan informasi yang akurat dan relevan kepada yang penun tut ilmu atau murid-muridnya. Ini juga dapat meningkatkan kualifikasi kita dalam profesi mereka.
Keempat, Pentingnya Pengetahuan dalam Islam: Islam mendorong umatnya untuk mencari ilmu pengetahuan dan memahami tuntunan agama dengan baik. Oleh karena itu, berhenti belajar dapat dianggap sebagai tindakan yang kurang sesuai dengan ajaran agama.
Dengan demikian, larangan bagi kita untuk berhenti belajar adalah bentuk pengingat tentang pentingnya pendidikan berkelanjutan dalam Islam.
Seorang muslim yang berkomitmen untuk terus belajar akan lebih efektif dalam memberikan pendidikan dan teladan yang berkualitas kepada Muslim lainnya dan dalam mendukung perkembangan mereka sebagai individu yang berpengetahuan. Semoga bermanfaat… (*)









