HiburanKuliner

Roti Klatak khas Palembang, Identik Ramadhan, Roti Tertua Sejak 30 ribu Tahun Silam

×

Roti Klatak khas Palembang, Identik Ramadhan, Roti Tertua Sejak 30 ribu Tahun Silam

Sebarkan artikel ini

Roti klatak, Identik Ramadhan, Roti Tertua Sejak 30 ribu Tahun Silam

Roti klatak, sangat identik saat bulan ramadhan. Karena hampir di setiap tahunnya, kehadiran roti klatak tak pernah absen di meja pedagang.

Meski sangat jarang di jual dengan kondisi sudah matang, namun roti klatak atau roti ko’ing ini sangat mudah di temukan dalam bentuk mentah.

Sebutan roti klatak, sebenarnya hanya untuk memudahkan saat pembelian. Karena, roti klatak ini sangat keras, jika tidak diseduh atau direndam dengan air.

Sangking kerasnya roti kering itu, sehingga saat di gigit, benturan antara gigi dan kerasnya roti, terdengar bergeretak.

Hampir mirip seperti gigi menggigit batu es. Selain itu, masyarakat ketika itu tidak tahu nama rotinya, sehingga di sebutkan roti klatak.

 

Baca juga :

Maknyussss… Hidangan Kuliner Khas Danau Ranau. Mudah Dibuat, berikut caranya

Pempek Pocu Kuliner Legendaris di OKU Kini Jadi Kenangan

Tampilan Roti Alakadarnya

Bentuk roti maupun tekstur roti, sangat beda dengan roti pada umumnya yang lembut dan manis dengan aneka bentuk yang unik, untuk menarik minat calon pembeli.

Tampilan Roti ko’ing terkesan alakadarnya. Sederhana, tanpa banyak polesan untuk mengundang ketertarikan pembeli.

Di beberapa jenis roti modern, ada isian atau keragaman toping yang menghiasi kemasan.

Roti ko’ing, justru kebalikannya. Tekstur keras, bentuk bulat permanan dari jaman dulu sampe di jaman Gen Z. Rasanya hambar.

Tidak ada isi maupun toping. Kemasannya sangat sederhana, hanya di kemas dalam plastik kecil biasa.

Satu kemasan biasanya berisi empat atau lima roti. Ada juga roti isi tiga.

Meski tampilan apa adanya terkesan bercanda, namun roti klatak atau ko’ing sangat identik dengan bulan puasa.

Karena, roti di produksi banyak. Sehingga, sepanjang Ramadhan, hampir setiap toko jajanan menyiapkan roti klatak dalam bentuk balan kecil.

 

Baca juga :

15 Rekomendasi Kuliner Khas Jajanan Palembang, Rasanya Sangat Legit dan Bikin Kamu Ketagihan!

Manfaat Daun Kemangi Perbaiki Urusan S*ks

Roti khas asal Palembang

Dari beberapa sumber, roti koing berasal dari Kota Palembang, Sumsel. Roti klatak, menjadi salah satu kuliner khas Palembang, selain pempek, model, tekwan masih banyak lainnya.

Di era 90 an ke bawahnya, roti klatak sangat banyak peminatnya. Baik untuk campuran es, maupun di santap bersama air gula atau santan yang di masak.

Muncul dari Jaman Penjajahan Belanda

Roti ko’ing ternyata sudah lama muncul. Produksi sederhana yang pertama kali keluar di era kependudukan Belanda.

Di masa itu, masyarakat membuat roti dengan bahan utama gandum. Namun, karena gula sulit di dapat, alhasil roti tersebut di buat tanpa rasa.

Namun, rasa tawar pada roti ko’ing jadi Identitasnya. Bahwa apapun roti keras tanpa rasa, kerap di sebut ko’ing.

Roti ko’ing Berasal dari Mesir dan Mesopotamia

Berdasarkan sumber yang di dapat, roti ko’ing sudah ada lebih lama lagi. Bahkan, roti tersebut berasal dari luar Indonesia.

Informasi yang di dapat, roti ko’ing berasal dari Mesir dan Mesopotamia.

Kemudian, roti tersebut merambah benua Eropa 30 ribu tahun lalu. Bahkan, roti ko’ing di sebut sebagai salah satu makanan tertua di dunia.

Di Indonesia, roti ko’ing sudah di konsumsi penjajah Belanda sejak era 1930 an.

Cara Sederhana Menikmati Roti Klatak

Tidak sulit menikmati roti keras ini. Namun, jangan coba-coba makan saat kondisinya masih mentah, jika tak mau gigi tanggal.

Roti ko’ing harus di rendam beberapa menit. Agar roti ko’ing lembut di luar dan dalam.

Cukup enak, jika di makan sambi minum kopi atau teh manis.

Kolak Roti ko’ing atau Es Campur

Di bulan Ramadhan, pedagang kuliner sangat jarang absen menghadirkan menu takjil tradisional.

Di Kabupaten OKU, dari sekian banyak pedagang takjil, biasanya hampir 50 persen, menyiapkan roti ko’ing. Baik yang mentah maupun yang siap konsumsi.

Harga bahan mentahnya sangat ramah di kantong. Namun, jika sudah di ubah jadi kuliner, biasanya di jual di kisaran Rp 3009 hingga Rp 5.000. (13)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News