HeadlineSumsel

Pupuk Subsidi Sulit Didapat, Hasil Panen Kopi Anjlok Petani di Ulu Ogan Menjerit

×

Pupuk Subsidi Sulit Didapat, Hasil Panen Kopi Anjlok Petani di Ulu Ogan Menjerit

Sebarkan artikel ini

OKUSATU.ID – Petani kopi di Desa Mendingin Kecamatan Ulu Ogan, gigit jari. Hasil panen dari komoditi itu terjun bebas. Padahal panen hanya terjadi satu kali dalam satu tahun.

 

Masyarakat petani pasrah dengan kondisi itu. Karena, mereka sudah menyadari sejak lama. Bahkan penyebabnya pun mereka tahu. Soal pupuk.

 

“Satu tahun ini tanaman kopi tidak dipupuk, ” ujar Idham, petani warga desa setempat, Senin 22 Mei 2023.

 

Pemupukan tanaman kopi, jelas dia, hanya dilakukan satu tahun dua kali. Setiap enam bulan harus dipupuk, agar buah kopi banyak saat dipanen.

 

“Tapi karena tidak dipupuk sama sekali, hasil panen anjlok, ” ungkapnya.

 

Dalam satu hektar lahan, idealnya kopi yang dipanen mencapai 1 ton hingg 2 ton. Dengan porsi pemupukan normal. Namun karena tidak dipupuk, satu hektar lahan hanya menghasilkan sedikit.

 

“Cuma 200 kg hasil panen. Ada juga yang sampai 500 kg, ” jelasnya.

 

Kondisi ini, kata dia, juga dirasakan petani kopi lain di desa itu. Karena penyebabnya sama. Yakni soal ketersediaan pupuk di agen.

 

“Hampir 90 persen warga bertani kopi. Dan tanaman kopi prioritas di desa ini, ” ungkapnya.

 

Petani kopi sangat mengandalkan pupuk jenis urea yang disubsidi. Karena harganya lebih murah dibanding harga pupuk non subsidi.

 

“Pupuk subsidi Rp 160 ribu sampai Rp 170 ribu persak. Sedangkan non subsidi Rp 350 ribu persak, ” tuturnya.

 

Tingginya harga pupuk non subsidi, sangat menyulitkan petani. Apalagi kebutuhan pupuk per pertani hingga ratusan kuintal pupuk.

 

“Karena harga mahal, warga pasrah tanpa pupuk, ” ungkapnya.

 

Sementara, untuk membeli pupuk subsidi, petani harus memiliki kartu tani. Sedangkan untuk proses pengurusan kartu tani, ada kendala sendiri.

 

“Rumit bikin kartu tani, ” katanya.

 

Dari sisi harga, sebenarnya harga kopi tergolong tinggi. Namun karena hasil panen yang anjlok, membuat petani kopi tidak bisa berbuat apa-apa.

 

“Harga biji kopi bersih Rp 30 ribu perkg. Ini tergolong tinggi harga jualnya. Tapi karena hasil panen sedikit, otomatis dapat duitnya juga sedikit, ” jelasnya.

 

Kades Mendingin Martambang dikonfirmasi portal ini membenarkan soal keluhan warganya. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

 

“Memang penyebabnya di pupuk. Dan sudah dilihat ke agen, pupuk lagi kosong, ” katanya.(13)

 

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News